Adiksi zat psikoaktif adalah keadaan ketika seseorang sulit mengendalikan pemakaian zat yang memengaruhi otak, padahal pemakaian itu sudah merugikan dirinya. Kondisi ini bisa ditangani. Pemulihannya berjalan bertahap: diperiksa lebih dulu, melewati masa putus zat dengan aman, lalu dirawat lebih lanjut agar tidak mudah kambuh.
Apa saja yang termasuk zat psikoaktif
Zat psikoaktif adalah zat yang mengubah kerja otak, termasuk suasana hati, cara berpikir, dan kesadaran. Alkohol, nikotin, ganja, sabu, dan heroin termasuk di dalamnya. Begitu juga beberapa obat resep, misalnya obat penenang dan obat pereda nyeri golongan tertentu seperti tramadol.
Memakai zat psikoaktif belum tentu berarti kecanduan. Yang menentukan adalah polanya: apakah pemakaian makin sulit dikendalikan dan terus berlanjut walau sudah menimbulkan masalah.
Tanda pemakaian sudah menjadi adiksi
Coba perhatikan apakah beberapa tanda berikut terjadi pada Anda atau orang terdekat:
- Sudah berkali-kali ingin mengurangi, tetapi tidak berhasil.
- Keinginan memakai terasa kuat dan sering memenuhi pikiran.
- Banyak waktu habis untuk mencari zat, memakainya, atau memulihkan diri dari efeknya.
- Pekerjaan, kuliah, keuangan, hubungan, atau kesehatan mulai terganggu.
- Tetap memakai walau sudah tahu akibatnya.
Sering kali muncul juga toleransi, yaitu butuh jumlah lebih banyak untuk merasakan efek yang sama, serta gejala putus zat saat berhenti. Namun, ketergantungan fisik berbeda dengan adiksi. Orang yang minum obat resep sesuai petunjuk dokter bisa mengalami gejala saat obatnya dihentikan, tanpa pernah kehilangan kendali atas pemakaiannya.
Adiksi adalah kondisi medis yang bisa ditangani
Pemakaian zat yang berulang mengubah cara otak menimbang rasa senang, stres, dan keputusan. Itu sebabnya banyak orang yang sungguh-sungguh ingin berhenti tetap saja kembali memakai. Niat saja sering tidak cukup.
Cap seperti "pecandu" atau "orang lemah iman" biasanya membuat orang malu, menutup diri, dan menunda berobat. Bila adiksi dipandang sebagai kondisi kesehatan, orang yang mengalaminya dan keluarganya lebih mudah fokus pada perawatan.
Langkah pertama: pemeriksaan yang jujur
Pemulihan dimulai dari pemeriksaan. Dokter akan menanyakan zat apa saja yang dipakai, seberapa sering, kapan terakhir, apa yang terjadi saat mencoba berhenti, dan obat atau alkohol lain yang dipakai bersamaan. Tidur, suasana hati, kecemasan, kondisi fisik, serta risiko overdosis atau menyakiti diri juga ikut dinilai.
Jika lupa nama zat atau obatnya, bawa kemasannya atau catatan yang ada; tidak perlu menebak isinya. Makin terbuka cerita Anda, makin aman rencana yang bisa disusun.
Melewati masa putus zat dengan aman
Berhenti mendadak dari alkohol atau obat penenang setelah pemakaian berat dan lama bisa memicu kejang atau kebingungan berat, jadi prosesnya perlu diawasi dokter. Jangan mencoba melewati masa putus zat itu sendirian di rumah. Dokter yang menilai apakah cukup dipantau lewat rawat jalan atau perlu dirawat di rumah sakit. Penjelasan lebih lengkap ada di artikel putus zat dan detoksifikasi dengan pengawasan medis.
Segera ke IGD terdekat atau telepon 119 bila selama putus zat muncul kejang, kebingungan berat, halusinasi, demam tinggi, jantung berdetak sangat cepat, sesak napas, atau penurunan kesadaran.
Perawatan setelah gejala putus zat reda
Gejala putus zat yang sudah mereda belum berarti pemulihan selesai. Perawatan lanjutan bisa berupa terapi perilaku, dukungan dari orang terdekat, dan pengobatan. Pada beberapa jenis kecanduan, obat juga dipakai untuk merawat kecanduannya sendiri, bukan hanya depresi atau cemas yang menyertainya. Perlu tidaknya obat, dan golongan apa, diputuskan psikiater setelah pemeriksaan.
Terapi membantu Anda mengenali situasi yang memancing keinginan memakai, menyiapkan cara menghadapinya, dan menata ulang kegiatan sehari-hari. Untuk memahami dorongan ini lebih jauh, baca sugesti atau craving narkoba.
Tidak semua orang perlu rehabilitasi inap. Sebagian bisa dirawat jalan dengan kontrol rutin. Bedanya dibahas di artikel rehabilitasi narkoba rawat jalan.
Kalau sempat kambuh
Kembali memakai cukup sering terjadi dalam pemulihan dan tidak menghapus kemajuan yang sudah dicapai. Yang perlu dilakukan adalah memperkuat rencananya. Segera hubungi dokter yang merawat agar risikonya bisa dinilai ulang.
Ada satu bahaya yang perlu diketahui. Setelah berhenti beberapa waktu, toleransi tubuh menurun, sehingga memakai lagi dengan jumlah seperti dulu bisa menyebabkan overdosis. Risikonya makin besar bila zat dicampur dengan alkohol atau obat penenang. Bawa langsung ke IGD bila seseorang sulit dibangunkan, napasnya sangat lambat, bibirnya kebiruan, atau tidak sadar.
Bila kambuh membuat Anda putus asa atau muncul pikiran menyakiti diri, hubungi 119 ekstensi 8 (Healing119, gratis) atau segera ke IGD terdekat.
Bila Anda mendampingi anggota keluarga
Dukungan keluarga paling terasa bila tidak berubah menjadi pengawasan penuh curiga. Tanyakan apa yang ia butuhkan saat keinginan memakai datang, ikut mengenali pemicunya, dan sepakati batas yang jelas, misalnya soal uang atau teman yang masih memakai datang ke rumah. Menutupi akibat pemakaiannya, seperti terus melunasi utangnya, biasanya justru membuat masalah berlarut.
Pendamping juga boleh mencari bantuan untuk dirinya sendiri bila kewalahan atau merasa tidak aman.
Bila ia khawatir soal kerahasiaan, tanyakan kepada layanan kesehatan bagaimana catatan medis disimpan dan siapa yang bisa melihatnya. Untuk pertanyaan hukum tentang kasus tertentu, tanyakan kepada pengacara atau lembaga bantuan hukum.
Konsultasi di Klinik Utama Luna
Adiksi dan zat psikoaktif termasuk fokus dr. Rudyhard E. Hutagalung, Sp.KJ. Di pertemuan pertama, Anda bisa membahas seberapa berat masalahnya, apakah aman berhenti lewat rawat jalan, dan langkah pemulihan berikutnya. Bila ternyata perlu perawatan yang lebih intensif, pilihan itu dibicarakan setelah pemeriksaan.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah adiksi zat psikoaktif bisa sembuh? Adiksi bisa ditangani dan dikendalikan. Pemulihannya bertahap dan perlu dijaga terus, termasuk dengan kontrol dan rencana menghadapi pemicu. Bila sempat kambuh, rencananya disesuaikan; usaha yang sudah berjalan tidak hilang.
Apa bedanya ketergantungan dan kecanduan? Ketergantungan fisik berarti tubuh sudah terbiasa dengan zat, sehingga muncul gejala saat zat dihentikan. Kecanduan berarti kendali atas pemakaian sudah hilang dan pemakaian berlanjut walau merugikan. Keduanya bisa terjadi bersamaan, tetapi tidak selalu.
Apakah obat resep bisa membuat kecanduan? Bisa, terutama obat golongan tertentu seperti obat penenang benzodiazepin dan beberapa obat pereda nyeri. Karena itu, obat seperti ini dipakai sesuai resep dan diawasi dokter. Bila Anda khawatir sudah bergantung, bicarakan dengan dokter sebelum mengubah cara minumnya.
Apakah orang yang kecanduan harus langsung masuk rehabilitasi? Tidak selalu. Sebagian orang bisa memulai dengan rawat jalan dan kontrol rutin, sebagian lain butuh perawatan yang lebih intensif. Pilihannya ditentukan setelah pemeriksaan, sesuai jenis zat, risiko putus zat, dan dukungan di rumah.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun penanganan medis. Informasi obat (bila ada) menjelaskan kelompok obat secara umum tanpa anjuran jenis maupun takaran — konsultasikan dengan psikiater.
Butuh bantuan sekarang? Hubungi layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8 (gratis), atau chat lewat healing119.id. Dalam keadaan darurat, segera ke IGD terdekat.





