Antipsikotik adalah kelompok obat yang dipakai untuk meredakan gejala psikosis, seperti mendengar suara yang tidak ada (halusinasi), keyakinan kuat yang tidak sesuai kenyataan (waham), dan pikiran yang kacau. Obat ini dikenal luas untuk skizofrenia, tetapi psikiater juga bisa memakainya pada kondisi lain, misalnya episode bipolar yang berat. Setelah gejala reda, sebagian orang tetap memakainya untuk mencegah kambuh. Efek sampingnya nyata, tetapi banyak di antaranya bisa dipantau dan diatasi bersama dokter.

Bagaimana antipsikotik bekerja di otak?

Banyak antipsikotik bekerja dengan menekan sinyal dopamin, salah satu zat pembawa pesan di otak. Sebagian juga memengaruhi serotonin. Karena itu, suara yang tadinya terasa keras dan nyata bisa melemah, dan keyakinan yang menakutkan tidak lagi terasa begitu mendesak.

Ini penjelasan yang disederhanakan. Psikosis tidak muncul hanya karena satu zat kimia di otak "kelebihan", dan cara kerja tiap obat sedikit berbeda.

Perbaikannya biasanya bertahap. Ada yang lebih dulu merasa tenang dan tidurnya membaik, sementara halusinasi atau waham baru mereda belakangan. Tujuannya membantu Anda merasa aman, berpikir lebih jernih, dan kembali menjalani hal-hal yang penting bagi Anda.

Generasi lama dan generasi baru: apa bedanya?

Antipsikotik sering dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok lama disebut antipsikotik tipikal atau generasi pertama. Kelompok yang lebih baru disebut atipikal atau generasi kedua.

Secara umum, kelompok lama lebih sering menimbulkan efek samping pada gerakan, seperti otot kaku atau tangan gemetar. Kelompok baru lebih jarang menimbulkan keluhan gerakan, tetapi sebagian obatnya lebih sering menaikkan berat badan, gula darah, dan lemak darah.

Pembagian ini hanya gambaran kasar. Ada obat generasi baru yang juga bisa memicu keluhan gerakan, dan ada obat generasi lama yang cocok untuk orang tertentu. Psikiater memilih obat berdasarkan gejala, riwayat kesehatan, respons pengobatan sebelumnya, dan pilihan Anda sendiri.

Tablet harian atau suntikan kerja panjang

Sebagian besar antipsikotik berupa tablet yang diminum setiap hari. Ada juga suntikan kerja panjang (long-acting injectable/LAI), yaitu suntikan yang diberikan tenaga kesehatan secara berkala. Jarak antarsuntikan berbeda-beda menurut jenis obatnya.

Suntikan bisa membantu orang yang sering lupa minum obat atau kesulitan menjaga jadwal tablet. Pada jenis suntikan tertentu, tablet masih perlu diminum untuk sementara di awal. Bentuk mana yang cocok sebaiknya dibicarakan bersama psikiater.

Efek samping yang sering muncul

Efek samping berbeda pada tiap obat dan tiap orang. Keluhan yang cukup sering dibicarakan antara lain:

  • Mengantuk dan lemas. Sering terasa di awal pengobatan dan bisa berkurang setelah tubuh menyesuaikan diri.
  • Pusing saat berdiri. Bangun dari duduk atau berbaring sebaiknya pelan-pelan.
  • Nafsu makan dan berat badan naik. Keluhan ini biasanya tidak hilang sendiri, jadi perlu dipantau sejak awal.
  • Kaku, gemetar, atau gerakan melambat. Gejalanya mirip penyakit Parkinson ringan.
  • Akatisia, yaitu rasa gelisah di dalam tubuh yang membuat Anda sulit duduk diam. Keluhan ini sering disangka cemas, padahal bisa jadi efek obat.
  • Perubahan hormon. Sebagian obat menaikkan hormon prolaktin, yang bisa membuat haid tidak teratur, payudara mengeluarkan cairan, atau gairah seksual menurun.

Kalau Anda merasa sangat datar, seperti kehilangan emosi, atau mengantuk berat sampai sulit bekerja, sampaikan ke dokter. Keluhan seperti ini tidak perlu ditahan-tahan, dan sering bisa diatasi bila dokter menyesuaikan pengobatannya.

Ada juga efek yang muncul setelah pemakaian lama, misalnya gerakan berulang tanpa disadari di mulut, lidah, atau wajah (diskinesia tardif). Karena itu, keluhan gerakan sekecil apa pun sebaiknya dilaporkan.

Pemeriksaan rutin selama minum antipsikotik

Pemeriksaan rutin membantu dokter menemukan efek samping sebelum menjadi masalah. Yang biasa dipantau adalah berat badan, tekanan darah, gula darah, dan lemak darah. Dokter juga akan menanyakan keluhan gerakan, haid, atau fungsi seksual, jadi tidak perlu malu menyampaikannya.

Untuk obat tertentu, dokter bisa meminta rekam jantung atau pemeriksaan darah khusus. Jenis dan jarak pemeriksaannya disesuaikan dengan obat dan kondisi kesehatan Anda.

Sebelum kontrol, ada baiknya Anda mencatat kapan keluhan muncul dan seberapa mengganggu. Contohnya, "mengantuk sampai tertidur di kantor" atau "tidak bisa duduk tenang saat makan". Catatan seperti itu lebih membantu daripada sekadar "kurang enak badan". Bila Anda sedang hamil atau merencanakan kehamilan, sampaikan juga sejak awal.

Tanda bahaya yang perlu segera ke IGD

Reaksi berat terhadap antipsikotik jarang terjadi, tetapi perlu dikenali. Segera ke IGD terdekat, atau hubungi 119 untuk bantuan gawat darurat, bila muncul:

  • demam tinggi disertai otot yang sangat kaku, keringat berlebihan, atau kebingungan;
  • kebingungan atau linglung yang muncul mendadak;
  • otot tiba-tiba sangat kaku, misalnya leher, rahang, atau mata tertarik ke satu arah dan sulit digerakkan;
  • pingsan, sesak napas, atau jantung berdebar sangat kencang;
  • kejang.

Jangan menunggu jadwal kontrol dan jangan mencoba mengatasinya dengan mengubah obat sendiri. Bawa daftar semua obat yang sedang diminum ke IGD.

Bila selama pengobatan muncul pikiran mengakhiri hidup, atau suara yang menyuruh menyakiti diri, hubungi 119 ekstensi 8 (Healing119, gratis) atau segera ke IGD terdekat.

Kenapa sebaiknya tidak berhenti sendiri

Banyak orang ingin berhenti karena sudah merasa sembuh atau karena efek sampingnya mengganggu. Keinginan itu wajar, tetapi berhenti antipsikotik secara mendadak adalah penyebab kambuh yang umum. Berhenti mendadak juga bisa memicu keluhan putus obat, seperti mual, gelisah, atau sulit tidur.

Kalau efek samping terasa berat, cara yang lebih aman adalah membicarakannya. Psikiater bisa mengganti jenis obat, mengubah bentuknya, atau menyarankan cara lain untuk meredakan keluhan itu. Jika Anda merawat anggota keluarga yang minum antipsikotik, langkah awal saat episode psikotik pertama dan tanda skizofrenia kambuh bisa membantu Anda tahu apa yang perlu diperhatikan. Untuk bipolar, baca juga penjelasan tentang mood stabilizer.

Konsultasi di Klinik Utama Luna

Efek samping yang mengganggu, keraguan antara tablet dan suntikan, atau pertanyaan soal berapa lama obat perlu diminum bisa dibahas bersama dr. Syailendra W. Sadjarwo, Sp.KJ. Skizofrenia, gangguan psikotik, dan bipolar termasuk fokus praktik beliau. Bawa daftar obat yang sedang diminum beserta catatan keluhan Anda. Bila yang mengalami masih anak atau remaja di bawah 18 tahun, carilah psikiater anak dan remaja; Klinik Utama Luna tidak memiliki psikiater anak.

Buat janji temu

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah antipsikotik harus diminum seumur hidup? Tidak selalu. Lama pengobatan bergantung pada diagnosis, jumlah episode sebelumnya, respons terhadap obat, dan risiko kambuh. Sebagian orang memerlukannya dalam jangka panjang, sebagian lagi tidak. Rencana ini ditinjau ulang bersama psikiater dari waktu ke waktu.

Apakah antipsikotik bikin ketagihan? Tidak. Antipsikotik tidak tergolong obat yang menimbulkan kecanduan. Meski begitu, tubuh menyesuaikan diri dengan obat ini, jadi menghentikannya tetap perlu direncanakan bersama dokter.

Apakah efek samping antipsikotik bisa hilang? Sebagian bisa. Kantuk dan pusing sering berkurang setelah tubuh terbiasa. Kenaikan berat badan, perubahan gula dan lemak darah, serta keluhan gerakan biasanya tidak hilang sendiri, jadi perlu dipantau dan dibicarakan dengan dokter.

Apakah antipsikotik membuat gemuk? Sebagian antipsikotik memang bisa menambah nafsu makan dan berat badan, tetapi tidak semuanya sama. Timbang berat badan secara rutin dan sampaikan perubahannya saat kontrol. Psikiater bisa mempertimbangkan obat lain bila kenaikannya mengganggu kesehatan.


Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun penanganan medis. Informasi obat (bila ada) menjelaskan kelompok obat secara umum tanpa anjuran jenis maupun takaran — konsultasikan dengan psikiater.

Butuh bantuan sekarang? Hubungi layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8 (gratis), atau chat lewat healing119.id. Dalam keadaan darurat, segera ke IGD terdekat.