Halusinasi berarti melihat, mendengar, mencium, atau merasakan sesuatu yang tidak dialami orang lain. Pada lansia, penyebabnya bisa delirium, demensia, penglihatan atau pendengaran yang menurun, efek obat, penyakit Parkinson, depresi berat, atau gangguan psikotik. Yang perlu disingkirkan lebih dulu adalah delirium, karena biasanya ada masalah medis mendesak di baliknya. Halusinasi yang baru muncul pada orang tua jangan dianggap sekadar faktor usia.

Artikel ini membahas kemungkinan penyebabnya. Untuk langkah praktis saat orang tua sedang berhalusinasi di rumah, baca cara keluarga merespons lansia yang berhalusinasi.

Delirium: penyebab yang harus dicari lebih dulu

Delirium adalah keadaan bingung akut: dalam hitungan jam atau hari, orang tua jadi sulit fokus dan kesadarannya berubah-ubah. Halusinasi, terutama berupa penglihatan, sering menyertainya. Orang tua bisa melihat orang atau binatang di kamar, merasa ada yang mengancam, lalu jadi gelisah atau ketakutan.

Pemicunya biasanya masalah fisik, seperti infeksi, kurang minum, obat baru, nyeri, atau rawat inap. Bila halusinasi muncul tiba-tiba bersama kebingungan, sangat mengantuk, atau demam, bawa orang tua ke IGD hari itu juga. Penjelasan lengkapnya ada di artikel delirium pada lansia.

Demensia, termasuk demensia Lewy body

Pada demensia, kerusakan sel otak bisa mengganggu cara otak mengolah apa yang dilihat dan didengar. Orang tua bisa salah mengira bayangan sebagai orang, menganggap pantulan dirinya di cermin sebagai orang asing, atau melihat sesuatu yang memang tidak ada. Perubahan ini termasuk dalam gejala perilaku dan psikologis demensia.

Ada satu jenis demensia yang perlu disebut khusus, yaitu demensia Lewy body. Pada jenis ini, halusinasi penglihatan bisa muncul sejak awal, sering berupa orang atau binatang yang tampak jelas. Gejala lain yang sering menyertai adalah kewaspadaan yang naik-turun dan gerakan yang melambat atau kaku mirip Parkinson. Orang dengan demensia Lewy body bisa sangat peka terhadap obat antipsikotik, sehingga pemilihan obatnya harus diputuskan dokter dengan hati-hati.

Penyakit Parkinson dan obat-obatnya

Halusinasi bisa muncul pada orang dengan penyakit Parkinson, terutama setelah penyakitnya berjalan lama. Penyebabnya bisa perubahan di otak akibat penyakit itu sendiri, efek obat Parkinson, atau keduanya. Yang sering muncul adalah halusinasi penglihatan, atau perasaan ada orang lain di dekatnya padahal tidak ada.

Jangan mengurangi atau menghentikan obat Parkinson sendiri, karena gejala geraknya bisa memburuk. Ceritakan halusinasinya kepada dokter saraf yang merawat dan psikiater, agar penyesuaiannya dibahas bersama.

Penglihatan atau pendengaran yang menurun

Lansia yang penglihatannya sangat menurun, misalnya karena katarak, glaukoma, atau kerusakan saraf mata, kadang melihat gambar yang tampak nyata: pola, bunga, wajah, atau orang. Kondisi ini dikenal sebagai sindrom Charles Bonnet. Banyak orang yang mengalaminya sebenarnya sadar bahwa yang dilihatnya tidak nyata, dan kondisi ini tidak berarti ia mengalami gangguan jiwa.

Hal serupa bisa terjadi pada pendengaran yang menurun. Sebagian lansia mendengar musik, lagu, atau suara samar yang tidak ada sumbernya. Karena itu, periksakan juga mata dan telinga orang tua, dan pastikan kacamata serta alat bantu dengarnya cocok dan dipakai.

Efek obat, alkohol, dan obat penenang

Obat termasuk penyebab yang mudah terlewat, apalagi bila orang tua berobat ke beberapa dokter sekaligus. Beberapa golongan obat bisa memicu halusinasi atau kebingungan, antara lain obat tidur dan obat penenang, sebagian obat pereda nyeri yang kuat, obat golongan antikolinergik (misalnya sebagian obat untuk kandung kemih atau alergi), steroid, dan obat Parkinson. Risikonya makin besar bila ia minum banyak obat sekaligus.

Orang tua yang biasa minum alkohol atau sudah lama memakai obat penenang juga bisa berhalusinasi bila tiba-tiba berhenti, dan keadaan ini termasuk darurat medis. Jangan mengubah atau menghentikan obat sendiri. Bawa daftar semua obat, termasuk obat bebas, jamu, dan suplemen, saat orang tua diperiksa.

Depresi berat dan gangguan psikotik

Depresi yang berat bisa disertai halusinasi atau keyakinan keliru yang menetap. Isinya sering sejalan dengan suasana hatinya, misalnya mendengar suara yang menyalahkan, atau yakin dirinya berdosa besar, jatuh miskin, atau sakit parah. Kondisi ini dibahas di artikel depresi dengan gejala psikotik.

Sebagian lansia juga bisa mengalami gangguan psikotik yang baru muncul di usia tua, misalnya terus yakin ada tetangga yang mengintai, mencuri, atau meracuninya, kadang disertai mendengar suara. Bila suara itu menyuruhnya menyakiti diri atau orang lain, atau ia bicara ingin mati, jangan tinggalkan ia sendirian. Hubungi 119 ekstensi 8 (Healing119, gratis) atau segera bawa ke IGD terdekat.

Duka dan saat menjelang tidur

Tidak semua pengalaman seperti ini menandakan penyakit. Sebagian orang yang berduka merasa melihat, mendengar, atau merasakan kehadiran pasangan yang sudah meninggal, dan pengalaman ini bisa terasa menghibur. Gambar atau suara sekilas saat hampir tertidur atau baru bangun juga bisa dialami orang tanpa gangguan apa pun.

Tetap ceritakan kepada dokter bila pengalaman itu membuat orang tua takut, makin sering, atau disertai perubahan lain seperti bingung, murung, atau curiga.

Kapan halusinasi pada lansia harus dibawa ke IGD

Halusinasi yang muncul tiba-tiba perlu ditangani di IGD hari itu juga, atau hubungi layanan gawat darurat 119, bila disertai salah satu tanda berikut:

  • kebingungan, sulit dibangunkan, atau kesadaran menurun,
  • demam, sesak, atau tampak sangat lemas,
  • jatuh, tidak mau minum, atau tidak bisa makan,
  • gemetar hebat, berkeringat, atau gelisah setelah berhenti alkohol atau obat penenang,
  • ketakutan atau agresif sampai membahayakan dirinya atau orang lain.

Yang membantu dokter mencari penyebabnya

Karena penyebabnya beragam, cerita Anda sangat membantu dokter. Sampaikan bentuk halusinasinya (melihat, mendengar, mencium, atau merasa disentuh), sejak kapan muncul, apakah datangnya mendadak, dan apakah orang tua sadar bahwa itu tidak nyata. Ceritakan juga obat yang baru dimulai atau diganti, kondisi mata dan telinganya, serta perubahan daya ingat, tidur, dan suasana hatinya.

Konsultasi di Klinik Utama Luna

Setelah penyebab medis yang mendesak diperiksa, Anda bisa membuat janji dengan dr. Rudyhard E. Hutagalung, Sp.KJ, yang juga menangani masalah kejiwaan pada lansia (psikiatri geriatri). Konsultasi ini bisa membantu menilai apakah halusinasi orang tua berkaitan dengan demensia, depresi, efek obat, atau gangguan psikotik, dan apa penanganan yang aman untuknya.

Buat janji temu

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa penyebab halusinasi pada lansia? Penyebabnya antara lain delirium, demensia, penglihatan atau pendengaran yang menurun, efek obat, penyakit Parkinson, depresi berat, dan gangguan psikotik. Pada halusinasi yang muncul mendadak, delirium perlu diperiksa lebih dulu.

Apakah halusinasi pada lansia pasti tanda demensia? Tidak. Demensia hanya salah satu kemungkinan. Masalah mata atau telinga, obat, infeksi, dan depresi juga bisa menyebabkan halusinasi, dan beberapa penyebab ini bisa diatasi.

Orang tua mengaku melihat almarhum pasangannya, apakah itu halusinasi? Pengalaman seperti ini bisa dialami orang yang sedang berduka dan tidak selalu menandakan gangguan. Periksakan bila pengalaman itu membuatnya takut, makin sering, atau disertai bingung, murung, atau perubahan perilaku lain.

Apakah obat bisa menyebabkan halusinasi pada lansia? Bisa. Obat tidur, obat penenang, sebagian pereda nyeri yang kuat, obat antikolinergik, steroid, dan obat Parkinson termasuk yang perlu ditinjau. Jangan menghentikan obat sendiri; bawa daftar obatnya ke dokter.

Apakah halusinasi pada lansia bisa hilang? Tergantung penyebabnya. Halusinasi karena delirium atau efek obat sering berkurang setelah pemicunya ditangani, sedangkan halusinasi karena demensia atau Parkinson biasanya perlu dikelola jangka panjang bersama dokter.


Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun penanganan medis. Informasi obat (bila ada) menjelaskan kelompok obat secara umum tanpa anjuran jenis maupun takaran — konsultasikan dengan psikiater.

Butuh bantuan sekarang? Hubungi layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8 (gratis), atau chat lewat healing119.id. Dalam keadaan darurat, segera ke IGD terdekat.