Ringkasan: Setelah beberapa kali serangan, yang membuat panik terus kembali sering kali adalah rasa takut akan serangan berikutnya, ditambah kebiasaan menghindar dan berjaga-jaga yang muncul sesudahnya. Kebiasaan itu terasa melindungi, tetapi justru membuat otak tetap menganggap panik sebagai bahaya. Lingkaran ini bisa diputus, terutama lewat latihan bertahap untuk kembali menghadapi sensasi dan situasi yang ditakuti.
Bila serangan Anda belum pernah diperiksa dokter, atau kali ini disertai nyeri dada berat, sesak hebat, atau pingsan, jangan langsung menganggapnya panik. Pergi ke IGD lebih dulu atau telepon 119 untuk ambulans.
Setelah serangan pertama, tubuh jadi terus berjaga
Serangan panik pertama sering datang tiba-tiba dan sangat menakutkan. Setelah itu, banyak orang mulai memantau tubuhnya terus-menerus. Debar kecil, pusing sedikit, atau napas yang terasa pendek langsung memicu pertanyaan: "Apakah ini akan terjadi lagi?"
Rasa waswas akan serangan berikutnya disebut cemas antisipasi. Masalahnya, berjaga sepanjang hari membuat tubuh terus setengah siaga. Dalam keadaan seperti itu, alarm tubuh jadi lebih gampang menyala, dan serangan berikutnya lebih mudah muncul. Ketakutan akan panik pun berubah menjadi bahan bakar panik itu sendiri.
Kebiasaan "jaga-jaga" yang diam-diam memperpanjang masalah
Untuk merasa aman, orang yang sering panik biasanya membangun kebiasaan pengaman tanpa sadar. Contohnya:
- selalu membawa air minum, minyak angin, atau obat penenang "untuk jaga-jaga" tanpa arahan dokter;
- duduk dekat pintu dan selalu mencari jalan keluar;
- hanya mau pergi bila ditemani;
- berulang kali mengecek nadi atau mencari gejala di internet;
- menghindari kopi, olahraga, atau tangga karena membuat jantung berdebar;
- bolak-balik ke IGD atau dokter untuk memastikan tidak ada yang salah.
Kebiasaan ini memberi lega sesaat. Namun, otak lalu menyimpulkan bahwa Anda selamat karena pengaman itu, bukan karena serangan panik memang akan reda dengan sendirinya. Akibatnya, rasa takut tidak pernah benar-benar teruji dan tetap bertahan.
Keluarga sering ikut terlibat dengan terus meyakinkan, "Tidak apa-apa, kamu sehat kok." Niatnya baik, tetapi bila diulang setiap kali cemas muncul, kebiasaan ini bisa ikut mempertahankan kecemasan. Lebih membantu bila keluarga menemani dengan tenang dan mendukung latihan yang sudah disepakati dengan terapis.
Menghindar: lega sekarang, takut lebih besar nanti
Setelah panik di KRL, Anda mungkin mulai naik ojek. Setelah panik di mal, Anda belanja daring saja. Setiap kali menghindar, rasa lega datang. Masalahnya, lega itu hanya sebentar. Saat harus naik KRL lagi, takutnya justru lebih besar daripada sebelumnya.
Daftar tempat yang dihindari pun cenderung bertambah: jalan tol, lift, antrean, rapat, sampai pergi sendirian. Bila pola ini sudah membuat banyak kegiatan terasa mustahil, kemungkinan agorafobia perlu dinilai. Penjelasannya ada di artikel gangguan panik dan agorafobia.
Cara memutus lingkaran panik
Inti penanganannya adalah mengajari otak bahwa sensasi panik tidak berbahaya dan bahwa tempat-tempat yang ditakuti bisa dilalui. Beberapa bagian yang biasanya ada:
Memahami cara kerja panik. Mengetahui bahwa debar, sesak, dan pusing berasal dari alarm tubuh membuat sensasi itu terasa kurang mengancam.
CBT (terapi kognitif-perilaku). Bersama terapis, Anda belajar mengenali pikiran seperti "saya pasti pingsan" lalu mengujinya dengan kenyataan, dan mengerjakan latihan di antara sesi.
Latihan menghadapi sensasi tubuh. Bersama terapis, Anda sengaja memunculkan sensasi yang mirip panik dengan cara yang aman, misalnya berputar di kursi atau berlari di tempat, sampai tubuh belajar bahwa sensasi itu bisa ditoleransi. Latihan ini baru dilakukan setelah dokter memastikan kondisi jantung dan paru Anda aman, dan sebaiknya tidak dicoba sendiri tanpa panduan.
Kembali ke tempat yang dihindari secara bertahap. Urutannya disusun bersama terapis, dimulai dari situasi yang paling ringan lalu naik setahap demi setahap. Kebiasaan jaga-jaga juga dilepas pelan-pelan sesuai rencana itu, tidak sekaligus.
Obat bila diperlukan. Psikiater bisa mempertimbangkan obat golongan SSRI atau SNRI, terutama bila serangan sering atau berat. Obat golongan benzodiazepin bekerja cepat tetapi berisiko menimbulkan ketergantungan, sehingga penggunaannya dibatasi dan diawasi ketat. Perbandingan terapi dan obat dibahas di artikel pengobatan gangguan cemas: terapi atau obat.
Saat serangan datang lagi
Coba perlakukan serangan sebagai gelombang yang akan lewat. Bila tempatnya aman, tetaplah di sana dan perhatikan bagaimana sensasinya naik, mencapai puncak, lalu turun. Puncaknya umumnya tercapai dalam hitungan menit, setelah itu sensasinya mereda.
Setiap serangan yang berhasil Anda lewati tanpa buru-buru kabur menjadi bukti baru bagi otak bahwa panik bisa dilalui. Bila Anda sedang menjalani terapi, ikuti langkah yang sudah disepakati dengan terapis atau dokter. Bila keluhannya terasa lain dari biasanya, misalnya nyeri dada yang lebih berat, jangan dilewati sebagai panik; periksakan ke IGD.
Seperti apa kemajuan itu
Kemajuan tidak harus berarti tidak pernah cemas lagi. Tandanya bisa berupa rasa takut akan serangan yang mulai berkurang, kegiatan yang tadinya dihindari bisa dijalani lagi, dan serangan yang tetap datang tidak lagi terasa seperti bencana.
Bila serangan justru makin sering sampai muncul hampir setiap hari, baca serangan panik setiap hari. Gambaran lengkap tentang kondisinya ada di artikel gangguan panik (panic disorder).
Konsultasi di Klinik Utama Luna
Bila serangan terus datang kembali dan daftar tempat yang Anda hindari makin panjang, Anda bisa membahasnya dengan dr. Rudyhard E. Hutagalung, Sp.KJ, psikiater yang berfokus pada kecemasan, di Klinik Utama Luna, Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan. Bawa catatan beberapa serangan terakhir dan daftar kebiasaan jaga-jaga yang Anda lakukan, supaya polanya bisa dibahas bersama.
Pertanyaan yang sering diajukan
Kenapa serangan panik bisa terus berulang? Setelah beberapa serangan, rasa takut akan serangan berikutnya membuat tubuh terus berjaga sehingga alarm lebih mudah menyala. Kebiasaan menghindar dan berjaga-jaga juga membuat otak tidak pernah belajar bahwa panik bisa reda sendiri. Kurang tidur, kafein, dan zat lain bisa ikut memperberat.
Apakah serangan panik berulang berarti gangguan panik? Belum tentu. Gangguan panik ditandai serangan berulang yang tidak terduga, disertai kekhawatiran menetap akan serangan berikutnya atau perubahan perilaku seperti menghindar. Psikiater yang bisa menilainya, setelah penyebab medis disingkirkan.
Apakah serangan panik bisa hilang sendiri? Pada sebagian orang serangan bisa berkurang sendiri. Namun bila Anda sudah mulai takut kambuh dan menghindari banyak tempat, lingkaran itu cenderung bertahan dan biasanya perlu penanganan seperti CBT.
Apakah serangan panik berulang harus diobati dengan obat? Tidak selalu. Pada sebagian orang, terapi seperti CBT sudah membantu; obat dipertimbangkan psikiater bila serangan sering, berat, atau disertai depresi. Keputusannya dibuat bersama psikiater.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun penanganan medis. Informasi obat (bila ada) menjelaskan kelompok obat secara umum tanpa anjuran jenis maupun takaran — konsultasikan dengan psikiater.
Butuh bantuan sekarang? Hubungi layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8 (gratis), atau chat lewat healing119.id. Dalam keadaan darurat, segera ke IGD terdekat.





