Alkohol dan depresi sering saling memperburuk. Minum memang bisa terasa menenangkan sesaat, tetapi alkohol merusak tidur, membuat hari berikutnya terasa lebih berat, dan membuat orang lebih mudah bertindak nekat. Bila Anda minum untuk menahan sedih, sepi, atau putus asa, sudah waktunya membicarakan keduanya dengan psikiater.
Banyak orang mulai minum supaya bisa tidur atau berhenti memikirkan masalah. Lama-lama pagi terasa makin berat, rasa bersalah bertambah, dan masalah yang ingin dilupakan justru membesar. Untuk keluar dari lingkaran ini, kebiasaan minum dan depresinya perlu ditangani bersamaan.
Kenapa minum terasa menolong, lalu membuat esok hari lebih berat
Alkohol membuat badan cepat rileks dan mengantuk. Masalahnya, tidur setelah minum biasanya dangkal dan mudah terputus, terutama menjelang pagi. Anda bisa bangun dalam keadaan lebih lelah, lebih mudah tersinggung, dan lebih sulit berkonsentrasi.
Kurang tidur sendiri memperberat depresi dan rasa cemas. Setelah itu sering muncul rasa bersalah atau malu karena minum, yang membuat hati makin turun. Supaya tidak merasakannya, sebagian orang minum lagi. Dari sinilah lingkarannya terbentuk.
Mana yang datang lebih dulu: depresi atau kebiasaan minum?
Pada sebagian orang, depresi sudah ada lebih dulu, lalu alkohol dipakai untuk meredakannya. Pada yang lain, kebiasaan minum yang makin berat membuat suasana hati terus turun. Sering kali keduanya sudah bercampur sehingga sulit dipisahkan sendiri.
Psikiater biasanya menelusuri urutan waktunya. Apakah gejala depresi pernah muncul saat Anda tidak minum? Bagaimana suasana hati Anda ketika minum berkurang? Jawabannya membantu dokter menilai apakah depresinya kemungkinan ikut membaik bila minum berhenti, atau perlu ditangani tersendiri sejak awal.
Bila Anda ragu apakah kebiasaan minum Anda sudah termasuk bermasalah, baca tanda minum alkohol mulai bermasalah.
Alkohol dan obat untuk depresi
Bila Anda sedang minum antidepresan atau obat lain dari psikiater, alkohol umumnya sebaiknya dihindari. Alkohol bisa mengurangi manfaat obat, karena alkohol sendiri memperberat suasana hati dan merusak tidur. Pada sebagian obat, alkohol juga menambah rasa kantuk dan pusing.
Alkohol yang dicampur dengan obat tidur atau obat penenang, misalnya golongan benzodiazepin, lebih berbahaya lagi karena keduanya sama-sama menekan kerja otak. Ceritakan dengan jujur kepada psikiater seberapa banyak dan seberapa sering Anda minum. Dokter perlu tahu ini supaya bisa memilih obat yang aman untuk Anda.
Berhenti minum mendadak bisa berbahaya
Bila Anda sudah lama minum dalam jumlah banyak, jangan berhenti mendadak sendirian. Tubuh yang sudah terbiasa dengan alkohol bisa bereaksi keras, mulai dari gemetar, berkeringat, gelisah, dan sulit tidur, sampai kejang atau kebingungan berat. Karena itu, rencana mengurangi atau berhenti minum perlu dibahas dengan dokter lebih dulu.
Kejang, kebingungan, halusinasi, demam tinggi, jantung berdebar sangat cepat, atau tidak sadarkan diri setelah mengurangi alkohol adalah keadaan darurat medis. Segera bawa ke IGD terdekat atau hubungi 119. Penjelasan lengkapnya ada di artikel gejala putus alkohol.
Saat pikiran ingin mati muncul setelah minum
Alkohol melonggarkan kendali diri. Pikiran yang biasanya masih bisa ditahan, termasuk pikiran untuk menyakiti diri, bisa terasa lebih mendesak saat mabuk atau sesudahnya. Karena itu, depresi yang disertai kebiasaan minum perlu ditanggapi dengan serius.
Bila muncul pikiran menyakiti diri atau ingin mati, jangan minum lagi untuk meredakannya dan jangan sendirian. Hubungi 119 ekstensi 8 (Healing119, gratis) atau minta orang yang Anda percaya untuk menemani. Bila sudah ada rencana, ada sarana untuk melakukannya, atau Anda merasa tidak bisa menjaga diri, segera ke IGD terdekat. Tanda depresi berat lainnya dibahas di artikel depresi berat: kapan ke psikiater dan kapan ke IGD.
Untuk keluarga: membicarakan soal minum tanpa bertengkar
Bagian ini untuk pasangan atau keluarga. Hindari membahas soal minum hanya saat sedang bertengkar. Pilih waktu ketika ia sedang tidak mabuk dan suasana cukup tenang, lalu ceritakan dampak yang Anda lihat dengan contoh nyata, misalnya "beberapa hari ini kamu tidak berangkat kerja setelah minum".
Setelah itu, tawarkan bantuan yang konkret, seperti menemaninya membuat janji temu. Bila ia sedang mabuk atau marah-marah, tunda pembicaraan dan utamakan keselamatan semua orang di rumah. Bila ada kekerasan atau ancaman kekerasan, jauhkan diri dan minta bantuan keluarga lain, tetangga, atau polisi di 110.
Mencatat pola minum dan suasana hati sebelum konsultasi
Catatan sederhana membantu psikiater melihat hubungan keduanya. Tulis kapan minum bertambah dan apa pemicunya, misalnya sedih, konflik, kesepian, susah tidur, atau rasa bersalah. Catat juga gejala depresi yang Anda rasakan, seperti hilang minat, energi turun, menarik diri, dan pikiran tentang kematian.
Bila pernah gemetar, berkeringat, atau gelisah saat tidak minum, sampaikan juga. Informasi ini penting untuk menilai apakah berhenti minum perlu diawasi secara medis.
Bila yang mengalami masih anak atau remaja di bawah 18 tahun, carilah psikiater anak dan remaja; Klinik Utama Luna tidak memiliki psikiater anak.
Konsultasi di Klinik Utama Luna
Masalah minum yang bercampur dengan depresi bisa dibicarakan dalam satu konsultasi, termasuk soal obat yang aman bagi Anda. Kecanduan dan adiksi termasuk fokus dr. Syailendra W. Sadjarwo, Sp.KJ, yang praktik di Klinik Utama Luna, Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah alkohol bisa menyebabkan depresi? Minum berat bisa memicu dan memperberat gejala depresi, antara lain lewat tidur yang rusak dan rasa bersalah sesudah minum. Pada sebagian orang suasana hati membaik setelah minum berkurang, sementara pada yang lain depresinya tetap ada dan perlu ditangani tersendiri. Psikiater membantu melihat mana yang terjadi pada Anda.
Bolehkah minum sedikit saat sedang depresi? Umumnya sebaiknya tidak. Jumlah sedikit pun bisa mengganggu tidur dan suasana hati, apalagi bila Anda sedang minum antidepresan, obat tidur, atau obat penenang. Bila sulit berhenti sama sekali, ceritakan kepada psikiater supaya bisa dicari cara yang aman.
Kenapa setelah minum saya malah makin sedih? Efek rileks dari alkohol cepat hilang. Yang tersisa adalah tidur yang buruk, badan tidak enak, dan sering kali rasa bersalah, sehingga suasana hati keesokan harinya lebih berat. Bila ini terus berulang, lingkaran antara minum dan depresi kemungkinan sudah terbentuk.
Mana yang ditangani lebih dulu, alkohol atau depresi? Biasanya keduanya ditangani bersamaan karena saling memengaruhi. Yang didahulukan adalah keselamatan, yaitu risiko putus alkohol yang berbahaya dan pikiran menyakiti diri.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun penanganan medis. Informasi obat (bila ada) menjelaskan kelompok obat secara umum tanpa anjuran jenis maupun takaran — konsultasikan dengan psikiater.
Butuh bantuan sekarang? Hubungi layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8 (gratis), atau chat lewat healing119.id. Dalam keadaan darurat, segera ke IGD terdekat.





