Keinginan berhenti minum antidepresan itu wajar dan boleh Anda bicarakan terbuka dengan psikiater. Yang penting, jangan menghentikan atau mengurangi obat sendiri, baik mendadak maupun "pelan-pelan" menurut perkiraan Anda. Rencanakan bersama dokter yang meresepkan. Tanpa rencana, tubuh bisa bereaksi dengan gejala putus obat, dan depresi bisa kembali tanpa Anda sadari.
Cara berhenti sama pentingnya dengan keputusan berhenti. Artikel ini tidak melarang Anda berhenti, dan juga tidak berisi jadwal penurunan obat. Isinya menjelaskan kenapa prosesnya perlu dipandu dokter, gejala apa yang bisa muncul, dan apa yang dilakukan dokter selama proses itu.
Alasan ingin berhenti boleh dibicarakan
Alasan orang ingin berhenti bermacam-macam: merasa sudah pulih, terganggu efek samping, bosan minum obat setiap hari, malu atau takut dicap, atau memikirkan biaya pengobatan jangka panjang. Semua alasan ini wajar dibicarakan. Anda tidak perlu menyembunyikannya karena takut dianggap tidak patuh.
Sampaikan di awal sesi kontrol bahwa Anda ingin membahas rencana berhenti, supaya ada cukup waktu. Bila alasannya efek samping, dokter mungkin bisa menyesuaikan pengobatan lebih dulu sebelum memutuskan berhenti total. Keluhan yang sering muncul dibahas di artikel efek samping antidepresan.
Kenapa berhenti tanpa rencana berisiko
Ada dua hal yang bisa terjadi bila antidepresan dihentikan sendiri, apalagi secara tiba-tiba.
Gejala putus obat. Tubuh yang sudah menyesuaikan diri dengan obat perlu waktu untuk beradaptasi lagi. Bila obat dihentikan atau dikurangi terlalu cepat, bisa muncul keluhan yang disebut gejala putus obat. Istilah medisnya sindrom penghentian antidepresan (dalam bahasa Inggris sering disebut withdrawal). Ini berbeda dengan kecanduan: antidepresan tidak membuat orang ketagihan seperti narkotika. Meski begitu, obat ini tetap perlu dihentikan secara bertahap dengan arahan dokter.
Depresi kambuh. Menghentikan pengobatan begitu merasa membaik dikenal luas sebagai salah satu pemicu kambuhnya depresi. Depresi yang selama ini terkendali bisa kembali, kadang perlahan sehingga baru disadari setelah beberapa waktu. Tanda-tandanya dibahas di artikel depresi kambuh.
Seperti apa gejala putus obat antidepresan
Keluhannya berbeda pada tiap orang dan bergantung pada jenis obatnya. Yang sering diceritakan antara lain:
- pusing atau rasa melayang, kadang disertai keseimbangan yang terganggu;
- mual atau perut tidak enak;
- sulit tidur atau mimpi yang terasa sangat nyata;
- sensasi singkat seperti tersengat listrik di kepala atau tubuh;
- mudah tersinggung, cemas, gelisah, atau mudah menangis;
- badan terasa seperti mau flu.
Sebagian orang hanya merasakan keluhan ringan. Sebagian lain merasakannya berat atau berlangsung lama. Apa pun beratnya, laporkan kepada dokter dan jangan ditahan sendiri.
Gejala putus obat atau depresi yang kembali?
Keduanya bisa terasa mirip dan sulit dibedakan sendiri di rumah. Secara umum, gejala putus obat sering berupa keluhan fisik yang baru, seperti pusing atau sensasi tersengat listrik, yang tidak pernah menjadi bagian dari depresi Anda. Keluhan ini biasanya muncul tidak lama setelah obat dikurangi atau dihentikan, dan pada banyak orang berangsur reda.
Depresi yang kambuh lebih mirip keluhan lama yang datang lagi: suasana hati turun, hilang minat, energi berkurang, dan pikiran-pikiran muram yang dulu Anda kenal kembali muncul. Biasanya kambuh datang lebih perlahan, lalu menetap atau makin berat, tidak berangsur reda.
Rasa cemas, mudah tersinggung, atau mudah menangis bisa muncul pada keduanya, jadi keluhan perasaan saja belum cukup untuk membedakannya. Dokter menilai jenis keluhan dan kapan munculnya, lalu menyesuaikan langkahnya. Karena itu, laporkan keluhan Anda dan jangan menebak sendiri, apalagi sampai kembali minum atau menambah obat tanpa arahan.
Apa yang dilakukan dokter saat Anda ingin berhenti
Menilai waktu yang tepat. Penghentian umumnya dipertimbangkan setelah kondisi Anda stabil cukup lama. Dokter menilainya dari riwayat Anda: berapa kali depresi pernah datang, seberapa berat, dan apa yang sedang terjadi dalam hidup Anda sekarang. Tidak ada patokan waktu yang berlaku untuk semua orang.
Menyusun rencana penurunan bertahap. Rencana ini dibuat khusus untuk Anda berdasarkan jenis obat, lama pemakaian, dan respons tubuh Anda. Karena berbeda untuk setiap orang, rencana ini tidak bisa diambil dari panduan umum, termasuk artikel ini.
Mengubah rencana bila muncul keluhan. Bila gejala putus obat terasa berat, dokter bisa menyesuaikan rencananya, misalnya membuat prosesnya lebih pelan. Karena itu, kontrol selama proses berhenti tetap penting walau Anda merasa baik.
Menyiapkan langkah bila gejala kembali. Tanyakan sejak awal keluhan apa yang perlu dilaporkan, bagaimana menghubungi dokter di luar jadwal kontrol, dan tanda apa yang berarti Anda harus segera mencari pertolongan.
Bila sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan
Jangan memutuskan berhenti sendiri karena khawatir terhadap janin atau bayi. Segera bicarakan dengan psikiater dan, bila perlu, dokter kandungan Anda. Keputusan ini perlu dibahas bersama dengan mempertimbangkan kondisi Anda dan bayi.
Bila Anda sudah terlanjur berhenti sendiri
Hubungi dokter yang meresepkan secepatnya. Jangan menunggu sampai keluhan memburuk, dan tidak perlu malu. Ceritakan kapan Anda berhenti dan keluhan apa yang muncul, lalu biarkan dokter menentukan langkah paling aman. Jangan memutuskan sendiri untuk kembali minum dengan takaran lama.
Bila muncul pikiran menyakiti diri selama proses berhenti
Pikiran menyakiti diri atau ingin mati bisa muncul bila depresi kembali, kapan pun itu terjadi: sebelum, selama, atau setelah obat dihentikan. Jangan menunggu jadwal kontrol. Segera hubungi 119 ekstensi 8 (Healing119, gratis), beri tahu orang terdekat, dan kabari dokter Anda. Bila sudah ada rencana atau Anda merasa tidak aman, segera ke IGD terdekat bersama pendamping.
Bila yang mengalami masih anak atau remaja di bawah 18 tahun, carilah psikiater anak dan remaja; Klinik Utama Luna tidak memiliki psikiater anak.
Konsultasi di Klinik Utama Luna
Bila Anda sedang menimbang untuk berhenti minum antidepresan, atau sudah terlanjur berhenti sendiri, bicarakan dengan dr. Syailendra W. Sadjarwo, Sp.KJ. Di Klinik Utama Luna, Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan, rencana berhenti bisa disusun saat konsultasi lalu dipantau lewat kunjungan kontrol. Cara kerja obatnya sendiri dijelaskan di panduan obat antidepresan.
Pertanyaan yang sering diajukan
Bolehkah berhenti minum antidepresan kalau sudah merasa sembuh? Boleh dibicarakan, tetapi jangan langsung berhenti. Merasa lebih baik adalah awal pembahasan dengan dokter tentang kapan dan bagaimana berhenti. Dokter mempertimbangkan berapa lama kondisi Anda stabil, riwayat episode sebelumnya, dan risiko kambuh.
Apa yang terasa kalau berhenti antidepresan mendadak? Bisa muncul pusing, mual, sulit tidur, sensasi seperti tersengat listrik, serta mudah tersinggung atau cemas. Beratnya berbeda pada tiap orang, dari ringan sampai berat atau berkepanjangan. Laporkan kepada dokter bila Anda mengalaminya.
Berapa lama gejala putus obat antidepresan berlangsung? Lamanya berbeda pada tiap orang, bergantung pada jenis obat dan lama pemakaiannya. Sebagian orang hanya mengalaminya sebentar, sebagian lain lebih lama. Bila keluhan tidak kunjung reda atau mengganggu, hubungi dokter agar rencananya bisa disesuaikan.
Apakah semua orang akhirnya bisa lepas dari antidepresan? Banyak orang bisa berhenti dengan aman setelah melalui proses bersama psikiater. Sebagian lain butuh pengobatan lebih lama, misalnya karena depresinya pernah kambuh berulang kali. Hal ini dievaluasi berkala dan tidak bisa dipastikan sejak awal.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun penanganan medis. Informasi obat (bila ada) menjelaskan kelompok obat secara umum tanpa anjuran jenis maupun takaran — konsultasikan dengan psikiater.
Butuh bantuan sekarang? Hubungi layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8 (gratis), atau chat lewat healing119.id. Dalam keadaan darurat, segera ke IGD terdekat.





