Efek samping antidepresan yang sering dikeluhkan antara lain mual, sakit kepala, sulit tidur atau justru mengantuk, pusing, berkeringat, perubahan nafsu makan, dan gangguan seksual. Sebagian keluhan di minggu-minggu awal biasanya berkurang saat tubuh mulai menyesuaikan diri, sementara sebagian lain bisa menetap dan perlu dibahas dengan psikiater. Ada juga reaksi yang tidak boleh ditunggu, seperti suasana hati memburuk drastis atau muncul pikiran menyakiti diri. Bila itu terjadi, hubungi dokter segera, atau hubungi 119 ekstensi 8 (Healing119, gratis) dan datang ke IGD terdekat bila Anda merasa tidak aman.

Kenapa efek samping terasa lebih dulu daripada manfaatnya

Antidepresan umumnya butuh beberapa minggu sebelum manfaatnya terasa. Efek samping justru bisa muncul sejak hari-hari pertama. Akibatnya, masa awal pengobatan sering terasa paling tidak enak: badan belum nyaman, sementara suasana hati belum membaik.

Di masa inilah banyak orang tergoda untuk berhenti minum obat. Padahal, belum terasa manfaat di minggu pertama tidak berarti obatnya gagal. Daripada berhenti diam-diam, ceritakan keluhannya kepada psikiater agar dicarikan jalan keluarnya.

Keluhan awal yang sering berkurang seiring waktu

Keluhan berikut sering muncul saat mulai minum antidepresan atau setelah takarannya diubah oleh dokter:

  • mual, perut tidak nyaman, atau diare ringan
  • sakit kepala
  • sulit tidur, mimpi terasa lebih nyata, atau sebaliknya mengantuk di siang hari
  • pusing
  • berkeringat lebih banyak dari biasa
  • rasa gelisah atau cemas yang sedikit meningkat

Pada banyak orang, keluhan ini mereda dalam beberapa minggu. Meski terasa ringan, tetap ceritakan saat kontrol. Dokter bisa memberi saran agar keluhan lebih tertahankan, atau menyesuaikan pengobatan bila perlu. Jangan menambah obat lain sendiri, termasuk obat tidur, obat bebas, atau suplemen, tanpa bertanya dulu ke dokter atau apoteker.

Efek samping yang bisa menetap dan layak dibicarakan

Sebagian efek samping tidak hilang sendiri, atau baru terasa setelah obat diminum lebih lama. Beberapa yang sering dikeluhkan:

  • Gangguan seksual, seperti gairah menurun, sulit mencapai orgasme, atau gangguan ereksi dan ejakulasi. Banyak orang malu membahasnya, padahal dokter sudah biasa membicarakannya.
  • Perubahan nafsu makan dan berat badan.
  • Perasaan jadi "datar". Rasa sedih berkurang, tetapi rasa senang dan antusias ikut menumpul.
  • Mengantuk atau lemas yang mengganggu pekerjaan.

Keluhan seperti ini tidak harus ditahan sendirian. Psikiater bisa membahas beberapa jalan keluar, mulai dari penyesuaian obat hingga beralih ke golongan lain.

Beda golongan, beda pola efek samping

Antidepresan terdiri dari beberapa golongan, dan pola efek sampingnya tidak sama.

  • SSRI dan SNRI. Efek samping yang sering dikaitkan dengan kedua golongan ini adalah mual, gangguan tidur, berkeringat, dan gangguan seksual. Sebagian obat SNRI juga bisa menaikkan tekanan darah, sehingga perlu dipantau.
  • Antidepresan trisiklik. Golongan yang lebih lama ini dikenal bisa menyebabkan mulut kering, sembelit, mengantuk, dan pusing saat berdiri. Pemakaiannya juga perlu hati-hati pada orang dengan gangguan irama jantung.
  • Antidepresan golongan lain. Ada yang cenderung membuat mengantuk atau menambah nafsu makan. Efek ini kadang justru dipertimbangkan dokter untuk orang yang sulit tidur atau kehilangan nafsu makan.

Penjelasan tentang golongan-golongan ini ada di artikel cara kerja dan jenis antidepresan.

Perlu perhatian lebih pada orang lanjut usia

Pada orang lanjut usia, beberapa hal lebih perlu diawasi. Pusing bisa membuat mudah jatuh. Kadar natrium dalam darah bisa turun dan memicu lemas atau bingung. Obat yang diminum biasanya sudah banyak, sehingga peluang interaksi lebih besar.

Risiko perdarahan juga perlu diperhatikan. SSRI dan SNRI yang dipakai bersama obat pengencer darah atau obat antinyeri tertentu bisa membuat orang lebih mudah berdarah, dan lansia lebih sering memakai obat-obat tersebut. Bila orang tua Anda tampak bingung mendadak, sangat lemas, atau sering jatuh setelah mulai minum antidepresan, segera bawa ke dokter atau IGD. Baca juga depresi pada lansia.

Kapan efek samping antidepresan menjadi keadaan darurat

Hubungi dokter hari itu juga bila:

  • Suasana hati memburuk drastis, muncul gelisah berat sampai tidak bisa diam, atau muncul pikiran menyakiti diri yang baru atau makin kuat. Risiko ini perlu diawasi terutama di minggu-minggu awal dan setelah perubahan takaran, dan lebih diperhatikan pada remaja dan dewasa muda. Bila pikiran itu terasa kuat, hubungi 119 ekstensi 8 (Healing119, gratis) atau segera ke IGD terdekat.
  • Muncul tanda suasana hati naik berlebihan: tidur sangat sedikit tetapi tetap merasa penuh energi, bicara sangat cepat, merasa luar biasa hebat, atau belanja dan mengambil keputusan secara impulsif. Tanda ini bisa mengarah ke gangguan bipolar, yang penanganannya berbeda. Baca depresi dan bipolar.
  • Muncul memar tanpa sebab yang jelas atau mimisan yang sulit berhenti.

Segera ke IGD bila:

  • Muncul gabungan gejala gelisah berat, kebingungan, demam atau berkeringat sangat banyak, jantung berdebar sangat cepat, gemetar, serta otot kaku atau berkedut, terutama setelah ada obat baru yang ditambahkan. Ini bisa menjadi tanda sindrom serotonin, yaitu reaksi serius karena serotonin di tubuh terlalu tinggi.
  • Muncul sesak napas, bengkak di wajah, bibir, atau tenggorokan, atau ruam yang meluas.
  • Terjadi kejang atau pingsan.
  • Muntah darah atau buang air besar berwarna hitam.

Kalau efek samping mengganggu, jangan berhenti diam-diam

Menghentikan antidepresan secara mendadak bisa memicu gejala penghentian, seperti pusing, mual, sulit tidur, mudah tersinggung, atau sensasi seperti tersengat listrik. Antidepresan bukan zat adiktif seperti narkotika, tetapi penghentiannya tetap perlu bertahap bersama dokter. Berhenti diam-diam juga bisa membuat depresi kambuh. Cara merencanakannya dibahas di berhenti minum antidepresan bersama dokter.

Saat melapor, ceritakan keluhannya sespesifik mungkin: apa yang terasa, sejak kapan, dan seberapa mengganggu tidur, pekerjaan, atau hubungan Anda. Kalimat "obatnya tidak cocok" sulit ditindaklanjuti. Kalimat "sejak minggu lalu saya mual setiap pagi sampai tidak bisa sarapan" jauh lebih membantu dokter. Sebutkan juga semua obat lain, suplemen, jamu, dan alkohol yang Anda konsumsi.

Konsultasi di Klinik Utama Luna

Bila efek samping membuat Anda ragu meneruskan pengobatan, bicarakan dulu sebelum memutuskan sendiri. Di Klinik Utama Luna, Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan, Anda bisa membahasnya dengan dr. Syailendra W. Sadjarwo, Sp.KJ. Bawa catatan keluhan dan semua obat yang Anda minum, agar rencana obat bisa ditinjau dan disesuaikan lewat kontrol lanjutan. Bila yang mengalami masih anak atau remaja di bawah 18 tahun, carilah psikiater anak dan remaja; Klinik Utama Luna tidak memiliki psikiater anak.

Buat janji temu

Pertanyaan yang sering diajukan

Berapa lama efek samping antidepresan hilang? Keluhan awal seperti mual, sakit kepala, atau sulit tidur sering berkurang dalam beberapa minggu pertama. Efek samping yang menetap, misalnya gangguan seksual atau perubahan berat badan, bisa bertahan selama obat diminum, jadi perlu dibahas dengan psikiater.

Apakah antidepresan membuat gemuk? Sebagian antidepresan bisa meningkatkan nafsu makan atau berat badan, tetapi tidak semuanya. Bila berat badan Anda berubah, sampaikan kepada psikiater agar dipertimbangkan penyesuaiannya, dan jangan berhenti sendiri.

Kenapa saya malah lebih cemas setelah mulai minum antidepresan? Rasa gelisah atau cemas yang sedikit meningkat bisa terjadi di awal pengobatan. Bila gelisahnya berat, disertai suasana hati memburuk atau pikiran menyakiti diri, hubungi dokter hari itu juga atau hubungi 119 ekstensi 8.

Apakah boleh berhenti minum antidepresan kalau efek sampingnya mengganggu? Jangan berhenti sendiri. Hubungi psikiater lebih cepat dari jadwal kontrol, karena banyak efek samping bisa diatasi dengan penyesuaian, sedangkan berhenti mendadak bisa memicu gejala penghentian.


Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun penanganan medis. Informasi obat (bila ada) menjelaskan kelompok obat secara umum tanpa anjuran jenis maupun takaran — konsultasikan dengan psikiater.

Butuh bantuan sekarang? Hubungi layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8 (gratis), atau chat lewat healing119.id. Dalam keadaan darurat, segera ke IGD terdekat.