Mudah marah bisa menjadi bagian dari gangguan bipolar, terutama saat episode mania, episode depresi, atau ketika gejala keduanya bercampur. Dokter menyebutnya iritabilitas: emosi jadi gampang tersulut oleh hal kecil dan sulit diredakan. Gejala ini bisa ditangani, tetapi tidak pernah membenarkan kekerasan. Bila marah sudah berubah menjadi ancaman atau tindakan fisik, keselamatan semua orang di rumah didahulukan.
Sebagian besar artikel ini ditujukan untuk keluarga yang menghadapi ledakan marah. Ada juga satu bagian khusus untuk Anda yang hidup dengan bipolar dan sering menyesal setelah emosi meledak.
Marah bisa muncul di setiap fase bipolar
Saat mania, marah sering datang bersama tidur yang berkurang, bicara cepat, rasa percaya diri yang berlebihan, dan keinginan agar semua hal berjalan secepat pikirannya. Orang yang menghalangi atau mengingatkan bisa dianggap mengganggu, sehingga bentrok mudah terjadi.
Saat depresi, marah lebih sering muncul sebagai mudah tersinggung, tidak sabar, dan ketus. Di baliknya bisa ada rasa lelah, putus asa, atau merasa tidak berharga.
Ketika tanda depresi dan mania muncul bersamaan, seseorang bisa merasa sedih sekaligus gelisah dan penuh energi. Kombinasi ini membuat emosi sangat tidak stabil dan risiko konflik ikut naik. Penjelasannya ada di artikel gejala campuran pada bipolar.
Marah biasa atau tanda episode?
Semua orang bisa marah, termasuk orang dengan bipolar, dan tidak setiap pertengkaran berarti bipolarnya kambuh. Yang perlu diperhatikan adalah perubahan dari kebiasaannya sendiri:
- marah jadi lebih sering, lebih cepat meledak, atau lebih keras dari biasanya;
- pemicunya kecil dan tidak sebanding dengan reaksinya;
- marah muncul bersamaan dengan tidur yang berkurang, bicara makin cepat, belanja atau keputusan impulsif, atau sebaliknya dengan murung dan menarik diri;
- emosinya sulit reda walau suasana sudah tenang.
Kurang tidur, alkohol, dan zat lain juga bisa membuat orang jauh lebih mudah marah. Efek samping obat, misalnya rasa gelisah, kadang ikut berperan. Semua ini perlu diceritakan kepada dokter agar penyebabnya bisa dipilah.
Saat ledakan terjadi: meredakan tanpa memperkeruh
Orang yang sedang meledak sulit diajak berpikir panjang. Beberapa hal yang biasanya membantu:
- bicara pelan dengan kalimat pendek;
- jangan berdebat soal siapa yang benar atau menuntut penjelasan saat itu juga;
- kurangi keramaian dan suara, dan ajak anak-anak atau anggota keluarga lain menjauh;
- beri jarak, lalu katakan bahwa pembicaraan dilanjutkan nanti setelah semua tenang.
Bila ada ancaman, barang dilempar, atau senjata di tangan, segera pindah ke tempat aman dan minta bantuan orang di sekitar. Jangan mencoba merebut senjata atau menahan orang yang sedang agresif seorang diri.
Bipolar tidak membenarkan kekerasan
Memahami bahwa marah bisa menjadi gejala tidak berarti keluarga harus menerima kekerasan. Anda berhak melindungi diri dan anggota keluarga lain. Menetapkan batas, misalnya "kalau mulai membanting barang, saya keluar rumah dulu", tetap bisa dilakukan dengan penuh kasih.
Cari bantuan darurat bila ada ancaman fisik, kekerasan sudah terjadi, anggota keluarga Anda nyaris tidak tidur dan tingkahnya jauh berbeda dari biasanya, mulai mendengar suara yang tidak ada atau punya keyakinan aneh yang tidak bisa dibantah, atau mengucapkan ingin mati. Setelah Anda dan anggota keluarga lain aman, bawa ia ke IGD terdekat dengan bantuan orang lain. Untuk pikiran bunuh diri atau krisis emosional, hubungi juga 119 ekstensi 8 (Healing119, gratis).
Jika Anda sendiri yang sering meledak
Banyak orang dengan bipolar merasa malu dan menyesal setelah episode marah mereda. Penyesalan itu menunjukkan Anda peduli, dan bisa menjadi awal untuk membuat rencana.
Coba kenali tanda yang biasanya muncul sebelum Anda meledak, misalnya tidur mulai berkurang, kepala terasa penuh, atau semua orang terasa lambat. Saat tanda itu muncul, ambil jeda, menjauh dari percakapan yang memanas, dan beri tahu orang terdekat. Ceritakan juga soal marah ini kepada psikiater. Bila merasa obat tidak cocok, bicarakan dengan dokter dan jangan menambah atau menghentikannya sendiri.
Bagaimana marah pada bipolar ditangani
Karena marah sering ikut naik-turun bersama episode mood, penanganannya berpusat pada menstabilkan suasana hati. Psikiater bisa meninjau obat dari golongan penstabil suasana hati (mood stabilizer) atau antipsikotik sesuai kondisi masing-masing. Jam tidur yang teratur serta menjauhi alkohol dan zat lain juga membantu menjaga emosi lebih stabil.
Orang dengan bipolar yang ikut psikoedukasi bersama keluarganya, yaitu belajar memahami bipolar, cenderung lebih jarang kambuh. Lewat psikoedukasi bipolar, keluarga dan orang dengan bipolar bisa menyepakati rencana saat suasana sedang tenang: tanda awal yang perlu diwaspadai, siapa yang dihubungi, dan kapan kontrol perlu dipercepat. Panduan lebih luas untuk keluarga ada di artikel mendampingi anggota keluarga dengan bipolar.
Sebelum kontrol, tuliskan beberapa ledakan terakhir: apa pemicunya, bagaimana tidur malam sebelumnya, apakah ada alkohol, dan apa yang terjadi setelahnya. Tulis apa adanya, tanpa julukan.
Bila yang mengalami masih anak atau remaja di bawah 18 tahun, carilah psikiater anak dan remaja; Klinik Utama Luna tidak memiliki psikiater anak.
Konsultasi di Klinik Utama Luna
Anda bisa datang bersama anggota keluarga ke Klinik Utama Luna dan berkonsultasi dengan dr. Rudyhard E. Hutagalung, Sp.KJ, yang salah satu fokus praktiknya gangguan bipolar. Ceritakan pola marah yang sudah Anda catat, supaya dokter bisa menilai kaitannya dengan episode mood dan meninjau obat yang sedang diminum.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah orang dengan bipolar selalu mudah marah? Tidak. Marah bukan sifat tetap orang dengan bipolar. Mudah marah biasanya muncul atau menguat saat episode mood, dan bisa mereda ketika suasana hati kembali stabil.
Apa bedanya marah biasa dengan marah karena bipolar? Marah yang menjadi gejala episode biasanya datang bersama perubahan lain, seperti tidur berkurang, energi naik, bicara cepat, keputusan impulsif, atau justru murung dan menarik diri. Marahnya juga terasa berbeda dari kebiasaan orang tersebut.
Bagaimana menghadapi keluarga dengan bipolar yang sedang marah? Bicara pelan dengan kalimat pendek, jangan berdebat, dan beri jarak. Tunda pembahasan sampai suasana tenang. Bila ada ancaman atau kekerasan, pindah ke tempat aman dan cari bantuan.
Apakah marah pada bipolar bisa diobati? Bisa. Ketika episode mood ditangani dan suasana hati lebih stabil, ledakan marah umumnya ikut berkurang. Penanganannya bisa mencakup obat, psikoterapi, tidur yang teratur, dan psikoedukasi bersama keluarga.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun penanganan medis. Informasi obat (bila ada) menjelaskan kelompok obat secara umum tanpa anjuran jenis maupun takaran — konsultasikan dengan psikiater.
Butuh bantuan sekarang? Hubungi layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8 (gratis), atau chat lewat healing119.id. Dalam keadaan darurat, segera ke IGD terdekat.





