Ringkasan: CBT (terapi kognitif-perilaku) dan EMDR sama-sama psikoterapi yang terstruktur, tetapi caranya berbeda. CBT bekerja lewat hubungan pikiran, perasaan, dan perilaku, dengan banyak latihan di antara sesi, dan dipakai untuk berbagai keluhan. EMDR terutama dipakai untuk trauma: ingatan traumatis diproses ulang dengan bantuan rangsangan kiri-kanan, tanpa selalu harus menceritakannya secara rinci. Untuk PTSD, CBT yang berfokus pada trauma dan EMDR sama-sama termasuk pilihan terapi.
Cara kerja: mengubah pola atau memproses ulang ingatan
CBT berangkat dari gagasan bahwa cara kita menafsirkan kejadian memengaruhi perasaan dan tindakan, dan tindakan itu kembali memengaruhi pikiran. Dalam terapi, Anda belajar memeriksa pikiran yang muncul otomatis dan mencoba perilaku baru, misalnya menghadapi hal yang selama ini dihindari secara bertahap. Penjelasan lengkapnya ada di artikel cara kerja terapi CBT.
EMDR (eye movement desensitization and reprocessing) berangkat dari pengamatan bahwa ingatan traumatis tersimpan dengan cara yang membuatnya terus terasa "baru". Anda memusatkan perhatian pada satu gambaran dari kejadian itu, sementara terapis memberi rangsangan bergantian kiri dan kanan, misalnya gerakan mata mengikuti jari, ketukan, atau bunyi. Harapannya, ingatan itu diproses ulang sehingga tidak lagi memicu takut sekuat dulu. Bagaimana tepatnya proses ini bekerja masih terus diteliti.
Seperti apa sesinya: perbandingan langsung
Bayangkan seseorang yang pernah dijambret di jalan pulang kerja. Sejak itu ia gemetar setiap mendengar motor mendekat dari belakang dan tidak berani lagi berjalan kaki sendirian. Begini kira-kira bedanya bila ia menjalani masing-masing terapi:
- Fokus sesi. Pada CBT yang berfokus pada trauma, ia membahas pikiran yang terbentuk setelah kejadian, misalnya "ini salah saya karena pulang terlalu malam" atau "di luar rumah saya tidak pernah aman". Pada EMDR, fokusnya satu gambaran ingatan beserta pikiran dan rasa di tubuh yang menyertainya.
- Seberapa banyak bercerita. Dalam CBT untuk trauma, ia sering diminta menceritakan atau menuliskan kejadian secara rinci, lalu membacanya berulang sampai tidak lagi semenakutkan dulu. Dalam EMDR, ia cukup memegang gambaran itu dalam pikiran dan melaporkan apa yang muncul dengan beberapa kata.
- Latihan di luar sesi. CBT biasanya memberi tugas rumah, misalnya mencatat pikiran atau kembali berjalan kaki di jalan yang ramai pada siang hari ditemani teman, lalu bertahap sampai berani berjalan sendiri. EMDR umumnya berisi lebih sedikit tugas rumah, biasanya sebatas memakai teknik menenangkan diri dan mencatat ingatan atau mimpi yang muncul.
- Peran terapis. Pada CBT, terapis banyak bertanya dan mengajaknya menguji dugaan. Pada EMDR, terapis lebih banyak memandu putaran pemrosesan dan menjaga agar ia tetap merasa aman.
Keduanya sama-sama dimulai dengan penilaian dan persiapan, dan keduanya bisa terasa berat secara emosional di tengah jalan.
Untuk keluhan apa masing-masing dipakai
CBT dipakai untuk banyak kondisi. Di antara psikoterapi untuk gangguan kecemasan, CBT termasuk yang dukungan buktinya paling banyak. CBT juga dipakai untuk depresi, untuk OCD lewat bentuk khususnya yang disebut ERP (paparan dan pencegahan respons), untuk insomnia lewat CBT-I, dan untuk trauma lewat CBT yang berfokus pada trauma.
EMDR terutama dipakai untuk trauma dan PTSD, yaitu keluhan seperti kilas balik, mimpi buruk, menghindari hal yang mengingatkan pada kejadian, dan tubuh yang terus waspada. Untuk keluhan lain, penggunaannya lebih terbatas. Proses EMDR dijelaskan lebih rinci di artikel terapi EMDR untuk trauma, sedangkan tanda PTSD dan kapan EMDR dipertimbangkan dibahas di artikel PTSD dan EMDR.
Bagaimana memilih di antara keduanya
Tidak ada satu terapi yang paling cocok untuk semua orang. Beberapa hal yang biasanya ditimbang:
- Masalah utamanya. Bila keluhan berpusat pada ingatan traumatis tertentu, EMDR dan CBT untuk trauma sama-sama bisa dipertimbangkan. Bila masalahnya kecemasan umum, depresi, OCD, atau susah tidur tanpa trauma yang jelas, CBT lebih sering menjadi pilihan.
- Kenyamanan bercerita. Sebagian orang merasa sangat berat bila harus menceritakan kejadian secara rinci. Sebagian lain justru lebih nyaman bila bisa membicarakannya secara terbuka.
- Kesanggupan mengerjakan latihan. CBT menuntut latihan rutin di antara sesi, sedangkan EMDR lebih banyak bekerja di dalam sesi.
- Kestabilan saat ini. Bila sedang ada krisis bunuh diri, penggunaan zat yang tidak terkendali, gejala psikotik, atau situasi hidup yang masih tidak aman, keselamatan dan stabilisasi didahulukan sebelum terapi trauma apa pun.
- Ketersediaan terapis yang terlatih. Kualitas pelatihan terapis dan rasa aman Anda dengannya sama pentingnya dengan nama metodenya.
Keduanya juga tidak harus dipilih salah satu. Ada orang yang menjalani EMDR untuk ingatan traumatisnya, lalu CBT untuk insomnia atau depresi yang menyertainya. Obat bisa berjalan bersama terapi mana pun bila psikiater menilai perlu.
Apa pun terapinya, bila ingatan trauma memunculkan pikiran untuk menyakiti diri, segera cari pertolongan lewat 119 ekstensi 8 (Healing119, gratis) atau IGD terdekat.
Siapa yang menjalankan terapinya
CBT dan EMDR umumnya dijalankan oleh psikolog klinis atau psikiater yang sudah mendapat pelatihan khusus. Perlu diingat, konsultasi dengan psikiater tidak sama dengan sesi terapi. Dalam konsultasi, psikiater menilai diagnosis, keselamatan, dan perlu tidaknya obat, lalu membantu menentukan arah terapi atau memberi rujukan.
Sebelum memulai, wajar bila Anda bertanya kepada terapis: pelatihan apa yang dimilikinya untuk metode ini, apa tujuan yang akan disepakati, dan kapan kemajuan akan ditinjau. Bila pernah mencoba terapi dan tidak cocok, ceritakan juga pengalaman itu, karena bisa jadi metodenya atau waktunya yang belum tepat.
Konsultasi di Klinik Utama Luna
Pendekatan dr. Syailendra W. Sadjarwo, Sp.KJ termasuk EMDR, sehingga Anda bisa langsung membahas dengannya apakah metode ini cocok untuk keluhan Anda. Anda juga bisa berkonsultasi dengan dr. Rudyhard E. Hutagalung, Sp.KJ. Dokter akan menilai keluhan dan keselamatan Anda, membantu menimbang apakah EMDR, CBT, atau keduanya lebih sesuai, dan menjelaskan apakah obat diperlukan. Bila yang mengalami masih anak atau remaja di bawah 18 tahun, carilah psikiater anak dan remaja; Klinik Utama Luna tidak memiliki psikiater anak.
Pertanyaan yang sering diajukan
Mana yang lebih baik untuk trauma, EMDR atau CBT? Tidak ada jawaban yang berlaku untuk semua orang. Untuk PTSD, keduanya termasuk pilihan terapi, dan pilihannya bergantung pada keluhan, kenyamanan bercerita, kesanggupan berlatih, dan ketersediaan terapis yang terlatih.
Apakah EMDR lebih cepat daripada CBT? Belum bisa dijawab secara umum. Lamanya terapi bergantung pada jenis trauma, kondisi yang menyertai, dan perkembangan Anda, bukan hanya pada metodenya.
Apakah CBT juga bisa dipakai untuk trauma? Bisa. Ada bentuk CBT yang khusus berfokus pada trauma. Di dalamnya, Anda biasanya membahas pikiran yang terbentuk setelah kejadian dan menghadapi ingatan serta situasi yang dihindari secara bertahap.
Apakah EMDR dan CBT boleh dijalani bersamaan? Bisa saja, asalkan direncanakan dan terapisnya saling tahu. Contohnya, EMDR untuk ingatan traumatis dan CBT untuk insomnia yang menyertainya.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun penanganan medis. Informasi obat (bila ada) menjelaskan kelompok obat secara umum tanpa anjuran jenis maupun takaran — konsultasikan dengan psikiater.
Butuh bantuan sekarang? Hubungi layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8 (gratis), atau chat lewat healing119.id. Dalam keadaan darurat, segera ke IGD terdekat.





