Psikosis adalah keadaan ketika seseorang kesulitan membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak. Ia bisa mendengar atau melihat sesuatu yang tidak ada, sangat yakin pada hal yang tidak sesuai kenyataan, atau bicaranya sulit diikuti. Psikosis adalah gejala, bukan nama satu penyakit. Gejala ini bisa muncul pada beberapa kondisi, dari skizofrenia sampai efek zat atau demam tinggi, dan bisa ditangani.
Gejala utama psikosis
Psikosis biasanya tampak dalam beberapa bentuk. Satu orang bisa mengalami satu atau beberapa sekaligus.
Halusinasi. Mendengar, melihat, mencium, atau merasakan sesuatu yang tidak dialami orang lain. Yang paling sering adalah mendengar suara, misalnya bisikan atau suara yang mengomentari dirinya. Pengalaman ini dibahas lebih rinci di Mendengar Suara yang Tidak Ada.
Waham (delusi). Keyakinan kuat yang tidak sesuai kenyataan dan tetap dipegang walaupun sudah ada bukti sebaliknya. Contohnya yakin sedang dimata-matai, diracun, atau punya misi khusus dari kekuatan besar. Waham curiga seperti ini dibahas di Delusi Paranoid.
Pikiran dan bicara yang kacau. Bicaranya melompat dari satu topik ke topik lain tanpa hubungan yang jelas, sampai orang lain sulit menangkap maksudnya.
Perilaku yang berubah drastis. Misalnya berpakaian tidak sesuai keadaan, tertawa atau bicara sendiri, sangat gelisah, atau justru diam dan menarik diri.
Bagi orang yang mengalaminya, semua ini terasa nyata. Karena itu, ia sering tidak merasa sakit dan bingung kenapa orang di sekitarnya khawatir.
Psikosis dan skizofrenia: apa bedanya?
Psikosis adalah gejala, sedangkan skizofrenia adalah salah satu diagnosis yang ditandai gejala psikosis. Mengalami psikosis tidak otomatis berarti seseorang menderita skizofrenia.
Psikosis juga bisa muncul pada gangguan bipolar, depresi berat, gangguan psikotik akut yang datang mendadak lalu mereda, atau akibat zat. Untuk menentukan diagnosisnya, psikiater melihat jenis gejala, berapa lama gejala berlangsung, dan apa yang memicunya. Kadang diagnosis baru jelas setelah pengamatan beberapa waktu. Psikosis yang muncul tiba-tiba dibahas di Gangguan Psikotik Akut.
Apa saja yang bisa memicu psikosis
Halusinasi dan waham punya banyak kemungkinan penyebab selain skizofrenia, antara lain:
- Kondisi kejiwaan, seperti skizofrenia, gangguan bipolar, atau depresi berat.
- Zat dan putus zat, misalnya pemakaian sabu atau ganja, atau putus alkohol pada orang yang terbiasa minum berat.
- Kondisi medis, seperti demam tinggi, infeksi berat, cedera kepala, atau gangguan pada otak.
- Kurang tidur ekstrem dan duka atau tekanan yang sangat berat.
Karena penyebabnya beragam, dokter tidak bisa menentukan diagnosis hanya dari satu gejala. Bila perlu, dokter meminta pemeriksaan tambahan, misalnya tes darah, untuk menyingkirkan penyebab fisik.
Mitos tentang psikosis yang perlu diluruskan
"Psikosis itu sama dengan kepribadian ganda." Tidak. Psikosis, termasuk pada skizofrenia, berbeda dengan kepribadian ganda. Orang dengan psikosis tidak berganti-ganti menjadi pribadi lain; yang terganggu adalah kemampuannya membedakan mana yang nyata.
"Orang dengan psikosis pasti berbahaya." Ini stigma yang keliru. Orang dengan skizofrenia justru lebih sering menjadi korban kekerasan daripada pelaku, dan pengobatan yang berjalan baik menurunkan risiko perilaku berbahaya. Meski begitu, saat gejalanya sedang berat, keselamatan dirinya dan orang di sekitarnya tetap perlu dijaga.
"Sekali psikosis, hidupnya selesai." Tidak benar. Psikosis bisa ditangani, dan kembali sekolah, bekerja, serta menjalani hidup seperti biasa tetap menjadi tujuan pemulihan.
Kapan psikosis harus ditangani hari itu juga
Gejala psikosis yang baru muncul sebaiknya diperiksa secepatnya, bukan ditunggu sampai parah. Namun, ada keadaan yang tidak bisa menunggu jadwal konsultasi:
- ada suara yang menyuruhnya menyakiti diri atau orang lain;
- ia mengancam, membawa benda berbahaya, atau berbicara ingin mati;
- ia hampir tidak tidur selama beberapa hari, atau tidak mau makan dan minum;
- ia tampak sangat bingung, kesadarannya menurun, demam, atau kejang.
Dalam keadaan ini, segera ke IGD terdekat, atau hubungi 119 bila perlu ambulans. Untuk arahan krisis kejiwaan, Anda bisa menghubungi 119 ekstensi 8 (Healing119, gratis). Jangan mencoba merebut benda berbahaya dari tangannya. Menjauhlah ke tempat aman dan minta bantuan.
Sambil menunggu bantuan, bicaralah dengan tenang dan singkat. Jangan membantah isi halusinasi atau wahamnya, tetapi jangan juga ikut membenarkannya. Cukup akui rasa takutnya. Keluarga yang baru pertama kali menghadapi keadaan ini bisa membaca Episode Psikotik Pertama: Langkah Awal untuk Keluarga.
Bagaimana psikosis ditangani
Penanganan psikosis mengikuti penyebabnya. Bila penyebabnya kondisi medis atau zat, penyebab itu ditangani lebih dulu. Bila psikosis berasal dari gangguan jiwa, psikiater bisa meresepkan obat dari golongan antipsikotik. Jenis dan cara pemakaiannya ditentukan psikiater setelah pemeriksaan.
Selain obat, penanganan biasanya meliputi edukasi untuk orang yang mengalami dan keluarganya, menjaga pola tidur, terapi psikologis, serta dukungan untuk kembali beraktivitas. Makin pendek jarak antara munculnya gejala dan penanganan pertama, umumnya makin baik pemulihannya.
Setelah gejala mereda, kontrol rutin tetap penting untuk mencegah kambuh. Jangan menghentikan obat sendiri walaupun sudah merasa sehat. Rasa malu setelah mengalami psikosis juga wajar, dan sikap keluarga yang tidak menghakimi membantu ia tetap mau berobat.
Konsultasi di Klinik Utama Luna
Bila Anda atau anggota keluarga mengalami gejala seperti di atas dan keadaannya tidak darurat, Anda bisa membuat janji dengan dr. Syailendra W. Sadjarwo, Sp.KJ. Skizofrenia dan gangguan psikotik termasuk fokus praktik beliau. Setelah pemeriksaan pertama, pengobatan bisa dilanjutkan lewat kontrol dan pengaturan obat. Bila yang mengalami masih anak atau remaja di bawah 18 tahun, carilah psikiater anak dan remaja; Klinik Utama Luna tidak memiliki psikiater anak.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu psikosis? Psikosis adalah keadaan ketika seseorang sulit membedakan kenyataan, misalnya karena halusinasi, waham, atau pikiran yang kacau. Psikosis adalah gejala yang bisa muncul pada beberapa kondisi, bukan satu penyakit tertentu.
Apakah psikosis sama dengan skizofrenia? Tidak. Skizofrenia adalah salah satu kondisi yang ditandai psikosis, tetapi psikosis juga bisa muncul pada bipolar, depresi berat, pemakaian zat, atau kondisi medis.
Apakah psikosis bisa sembuh? Bisa ditangani, dan gejalanya bisa mereda. Pada sebagian orang psikosis tidak kembali lagi, sementara yang lain perlu pengobatan jangka panjang untuk mencegah kambuh. Penanganan yang dimulai lebih awal umumnya memberi hasil lebih baik.
Apa yang menyebabkan seseorang mengalami psikosis? Penyebabnya beragam, mulai dari skizofrenia, bipolar, dan depresi berat, sampai pemakaian zat, putus alkohol, demam tinggi, infeksi, cedera kepala, dan kurang tidur ekstrem. Dokter perlu memeriksa untuk mencari penyebabnya.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun penanganan medis. Informasi obat (bila ada) menjelaskan kelompok obat secara umum tanpa anjuran jenis maupun takaran — konsultasikan dengan psikiater.
Butuh bantuan sekarang? Hubungi layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8 (gratis), atau chat lewat healing119.id. Dalam keadaan darurat, segera ke IGD terdekat.





