Kekambuhan skizofrenia sering diawali perubahan kecil: tidurnya berantakan, ia lebih sering mengurung diri, mulai curiga, atau kembali bicara sendiri. Bila keluarga mengenali tanda-tanda ini dan segera menghubungi psikiater, kekambuhan bisa ditangani lebih awal, sebelum menjadi krisis. Namun, bila ia sudah mengancam, menuruti suara yang menyuruhnya berbuat berbahaya, atau bicara ingin mati, jangan menunggu kontrol: bawa ke IGD terdekat, atau hubungi 119 ekstensi 8 (Healing119, gratis) untuk arahan krisis.

Kambuh bukan tanda bahwa keluarga gagal atau ia tidak berusaha. Skizofrenia adalah kondisi jangka panjang yang memang perlu dikelola terus.

Tanda awal kambuh yang sering terlihat di rumah

Perubahan yang biasanya muncul lebih dulu antara lain:

  • tidur berkurang, begadang, atau jam tidur terbalik;
  • lebih sering menyendiri di kamar dan menolak kegiatan yang biasa ia jalani;
  • mulai curiga pada tetangga, keluarga, atau makanan;
  • bicara atau tertawa sendiri, atau mengaku kembali mendengar suara;
  • sulit berkonsentrasi, misalnya tidak bisa lagi mengikuti acara TV atau obrolan;
  • lebih mudah tersinggung, gelisah, atau tampak ketakutan;
  • mulai malas mandi, makan, atau mengurus diri.

Satu tanda saja belum tentu berarti kambuh. Yang perlu diwaspadai adalah perubahan yang berbeda dari kebiasaannya, terutama bila beberapa tanda muncul bersamaan dan bertahan.

Setiap orang punya pola kambuhnya sendiri

Tanda awal kambuh pada satu orang bisa berbeda dari orang lain, tetapi pada orang yang sama polanya sering mirip dari waktu ke waktu. Misalnya, sebelum kambuh terakhir, ia mungkin mulai begadang lalu menuduh tetangga membicarakannya.

Karena itu, coba ingat-ingat tanda apa saja yang muncul menjelang kekambuhan sebelumnya. Tuliskan bersama dia saat kondisinya sedang stabil, supaya ia juga ikut mengenali tanda-tandanya sendiri. Daftar ini menjadi bagian dari rencana krisis keluarga, yang cara menyusunnya dibahas di Merawat Orang dengan Skizofrenia.

Pemicu kambuh yang perlu ditinjau

Kambuh jarang punya satu penyebab tunggal. Sering beberapa tekanan kecil menumpuk sampai gejala muncul kembali. Beberapa pemicu yang perlu ditinjau:

  • Berhenti atau tidak teratur minum obat. Ini pemicu yang umum, apalagi bila antipsikotik dihentikan tiba-tiba. Alasannya bisa karena efek samping atau merasa sudah sembuh.
  • Kurang tidur dan perubahan rutinitas, misalnya pindah rumah atau mulai kerja baru.
  • Stres dan konflik, termasuk suasana rumah yang penuh kritik dan ketegangan.
  • Pemakaian zat, seperti ganja, sabu, atau alkohol.

Tujuan meninjau pemicu adalah mengetahui bagian mana dari rencana perawatan yang perlu diperkuat, jadi tidak perlu saling menyalahkan.

Begitu tanda awal muncul: majukan jadwal kontrol

Banyak keluarga berharap tanda-tanda itu hilang sendiri. Harapan itu manusiawi, tetapi menunggu bisa membuat keadaan lebih sulit. Begitu tanda awal muncul, hubungi psikiater dan majukan jadwal kontrol. Menangani gejala sejak awal biasanya jauh lebih ringan daripada menangani kekambuhan yang sudah berat.

Saat mengajaknya kontrol, mulailah dari hal yang ia rasakan sendiri, misalnya "Kamu kelihatan susah tidur seminggu ini, yuk kita tanya dokter." Hindari kalimat yang melabeli seperti "Kamu kumat lagi." Bila ia mulai menyampaikan kecurigaan, misalnya yakin makanannya dicampur sesuatu, jangan membantah dan jangan pula membenarkan. Tanggapi rasa cemasnya saja, lalu kembali ke ajakan kontrol. Ceritakan kepada dokter perubahan yang Anda lihat dengan bahasa yang netral: "Tidurnya cuma sebentar dan ia lebih sering bicara sendiri" lebih membantu daripada "Dia kacau lagi."

Bila ia tidak merasa sedang kambuh dan menolak kontrol, jangan berdebat keras. Anda bisa menghubungi psikiater yang menanganinya lebih dulu untuk meminta arahan. Bila efek samping obat menjadi alasan ia enggan, sampaikan juga hal itu, karena pengobatan bisa disesuaikan oleh dokter. Penjelasan tentang efek samping ada di Obat Antipsikotik.

Saat kambuh mulai membahayakan

Jangan menunggu sampai semua anggota keluarga sepakat bila muncul salah satu keadaan berikut:

  • ia mengancam, membawa benda berbahaya, atau mencoba melukai seseorang;
  • ia mengikuti suara yang menyuruhnya melakukan hal berbahaya;
  • ia berbicara ingin mati atau menyakiti diri;
  • beberapa malam berturut-turut ia nyaris tidak tidur, atau tidak mau makan dan minum;
  • ia tampak sangat bingung, demam, atau kesadarannya menurun.

Segera bawa ke IGD terdekat. Bila Anda tidak bisa membawanya dengan aman, hubungi 119 untuk meminta ambulans atau petugas gawat darurat. Untuk arahan krisis kejiwaan, Anda juga bisa menghubungi 119 ekstensi 8 (Healing119, gratis). Jaga juga keselamatan Anda sendiri: menjauh sebentar untuk memanggil bantuan adalah keputusan yang tepat, bukan tanda menyerah.

Setelah kekambuhan mereda

Saat gejalanya sudah tenang, ajak dia dan anggota keluarga lain meninjau ulang apa yang terjadi. Tanda awal apa yang terlewat? Pemicu apa yang mungkin berperan? Apakah jadwal kontrol, pola tidur, atau pembagian tugas di rumah perlu diubah? Lalu perbarui rencana krisis tertulis Anda.

Hindari mempermalukannya atas apa yang terjadi selama kambuh, termasuk menceritakannya kepada orang yang tidak perlu tahu. Rasa malu bisa membuatnya menyembunyikan tanda awal di lain waktu. Perubahan awal sebelum episode pertama, yang berbeda dari kekambuhan, dibahas di Gejala Prodromal Skizofrenia.

Konsultasi di Klinik Utama Luna

Saat tanda awal kambuh muncul dan keadaannya belum darurat, kontrol yang dimajukan bisa membantu menilai apakah pengobatan, jadwal, atau dukungan di rumah perlu diubah. Di Klinik Utama Luna, Anda bisa membuat janji kontrol dengan dr. Syailendra W. Sadjarwo, Sp.KJ, psikiater yang berfokus pada skizofrenia dan gangguan psikotik, termasuk untuk pengaturan obat. Bila yang mengalami masih anak atau remaja di bawah 18 tahun, carilah psikiater anak dan remaja; Klinik Utama Luna tidak memiliki psikiater anak.

Buat janji temu

Pertanyaan yang sering diajukan

Seperti apa tanda skizofrenia kambuh? Tanda yang sering muncul antara lain tidur berantakan, menarik diri, mulai curiga, bicara atau tertawa sendiri, kembali mendengar suara, dan mulai tidak mengurus diri. Polanya sering mirip dengan kekambuhan sebelumnya pada orang yang sama.

Apa penyebab skizofrenia kambuh? Penyebabnya sering gabungan beberapa hal, seperti berhenti atau tidak teratur minum obat, kurang tidur, stres dan konflik, serta pemakaian zat. Psikiater akan membantu meninjau pemicu mana yang berperan.

Apakah kambuh berarti pengobatannya gagal? Tidak selalu. Kambuh bisa dipengaruhi banyak hal, dan rencana perawatan bisa disesuaikan bersama psikiater. Yang penting adalah segera kontrol begitu tanda awal muncul.

Bagaimana kalau ia menolak kontrol saat mulai kambuh? Hindari adu argumen. Bicarakan keluhan yang ia akui, misalnya badan lelah karena kurang tidur, lalu hubungi psikiaternya untuk meminta arahan. Bila ada tanda bahaya, bawa ke IGD atau hubungi 119 ekstensi 8.


Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun penanganan medis. Informasi obat (bila ada) menjelaskan kelompok obat secara umum tanpa anjuran jenis maupun takaran — konsultasikan dengan psikiater.

Butuh bantuan sekarang? Hubungi layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8 (gratis), atau chat lewat healing119.id. Dalam keadaan darurat, segera ke IGD terdekat.