Depresi mayor adalah istilah medis untuk depresi yang sudah memenuhi kriteria diagnosis. Intinya, suasana hati sedih atau hampa, atau hilangnya minat, muncul hampir setiap hari selama sekitar dua minggu atau lebih, disertai gejala lain, dan mengganggu kehidupan sehari-hari. Kata "mayor" menandai bahwa ini lebih dari sedih biasa; seberapa berat depresinya dinilai terpisah. Depresi mayor bisa ditangani. Bila saat ini Anda punya pikiran untuk mengakhiri hidup, jangan tunggu sampai selesai membaca: hubungi 119 ekstensi 8 (Healing119, gratis) atau segera ke IGD terdekat.
Kenapa disebut "mayor"?
Istilah ini terjemahan dari major depressive disorder, nama yang dipakai dalam DSM, buku panduan diagnosis gangguan jiwa terbitan Asosiasi Psikiatri Amerika. Di Indonesia, dokter juga memakai PPDGJ, pedoman diagnosis nasional yang mengacu pada klasifikasi WHO. Di pedoman itu, kondisi yang mirip disebut "episode depresif". Jadi, bila satu dokter menulis "depresi mayor" dan dokter lain menulis "episode depresif", keduanya sering sedang membicarakan hal yang serupa.
Yang lebih penting adalah artinya bagi Anda. Bila dokter menyebut depresi mayor, keluhan Anda sudah cukup jelas untuk ditangani secara medis, dan tidak cukup ditunggu sampai lewat seperti "lagi down" biasa.
"Mayor" tidak selalu berarti berat
Banyak orang kaget mendengar kata "mayor" dan mengira kondisinya sudah sangat parah. Padahal, depresi mayor masih dibagi lagi menurut tingkatnya: ringan, sedang, atau berat. Seseorang dengan depresi mayor tingkat ringan mungkin masih bisa bekerja, walau dengan susah payah dan tanpa rasa senang.
Tingkat inilah yang ikut menentukan pilihan penanganan. Bila Anda ingin tahu kapan depresi sudah masuk tahap berat dan kapan perlu pertolongan segera, baca depresi berat: kapan ke psikiater dan kapan ke IGD.
Gejala yang dinilai dokter
Dokter tidak menetapkan depresi mayor dari satu keluhan saja. Yang dilihat adalah kumpulan gejala yang muncul hampir setiap hari selama sekitar dua minggu atau lebih dan mengganggu kegiatan. Salah satunya harus berupa suasana hati yang sedih atau hampa, atau hilangnya minat. Gejala lain yang ikut dihitung:
- lelah dan tidak bertenaga, bahkan setelah beristirahat;
- tidur terganggu, bisa sulit tidur atau justru tidur berlebihan;
- nafsu makan dan berat badan berubah;
- sulit berkonsentrasi atau mengambil keputusan;
- merasa bersalah atau tidak berharga secara berlebihan;
- gerak dan bicara jadi lambat, atau sebaliknya gelisah dan tidak bisa diam;
- pikiran tentang kematian atau keinginan mengakhiri hidup.
Dari daftar ini terlihat bahwa depresi juga terasa di badan, tidak hanya di perasaan. Dokter juga memeriksa kemungkinan penyebab lain, misalnya penyakit fisik, efek obat, atau pengaruh alkohol, sebelum menyimpulkan.
Bedanya dengan sedih biasa, distimia, dan depresi pada bipolar
Sedih biasa atau duka. Sedih setelah kehilangan atau kegagalan adalah reaksi yang wajar, dan biasanya masih diselingi saat-saat lega. Depresi mayor dinilai dari kumpulan gejala, lamanya, dan dampaknya, bukan dari ada atau tidaknya pemicu. Depresi juga bisa muncul setelah peristiwa yang berat.
Distimia. Distimia adalah depresi yang gejalanya lebih ringan tetapi menetap sangat lama, sampai orang mengira itu memang sifatnya: "saya memang orangnya murung." Orang dengan distimia juga bisa mengalami episode depresi mayor di atasnya.
Depresi pada bipolar. Fase depresi pada gangguan bipolar bisa terlihat sama persis dengan depresi mayor. Bedanya, pada bipolar pernah ada masa suasana hati naik, yaitu mania atau hipomania. Perbedaan ini penting karena pada bipolar, antidepresan tanpa obat penstabil suasana hati bisa memicu lonjakan ke fase naik. Bagaimana diagnosis depresi kadang berubah menjadi bipolar dibahas di depresi dan bipolar.
Satu episode, atau bisa datang lagi?
Dokter sering memakai kata "episode" karena depresi mayor biasanya datang sebagai satu masa tertentu, lalu membaik dengan penanganan. Sebagian orang hanya mengalaminya sekali. Sebagian lain mengalaminya lagi di kemudian hari, dan dokter lalu menyebutnya depresi berulang.
Karena itu, mengenali tanda awal milik Anda sendiri sangat berguna. Penjelasannya ada di depresi kambuh.
Pilihan penanganan depresi mayor
Penanganan disesuaikan dengan tingkat depresi dan keadaan Anda. Pilihan yang umum dibahas:
- Psikoterapi. Salah satunya CBT (terapi kognitif-perilaku), yang membantu mengenali pikiran yang menjatuhkan diri dan mengubah kebiasaan yang memperberat depresi. Bagian dari CBT yang disebut aktivasi perilaku berarti menjadwalkan kegiatan kecil yang dulu dinikmati, sedikit demi sedikit, supaya tenaga dan minat pelan-pelan kembali.
- Obat golongan antidepresan. Antidepresan adalah obat keras yang hanya bisa didapat dengan resep. Efeknya umumnya baru terasa setelah beberapa minggu, jadi belum terasa di minggu pertama belum berarti gagal.
- Gabungan keduanya. Untuk depresi sedang sampai berat, psikoterapi dan obat lazim dipertimbangkan bersama.
- Dukungan keluarga dan kontrol rutin, supaya perubahan bisa dipantau dan rencana disesuaikan bila perlu.
Jenis obat dan lamanya pengobatan diputuskan bersama psikiater setelah pemeriksaan langsung.
Saat depresi mengubah cara Anda menilai diri sendiri
Depresi mayor berbahaya karena mengubah cara seseorang menilai diri dan keadaannya. Pikiran seperti "semua orang lebih baik tanpa saya" bisa terasa sangat benar saat episode sedang berat, padahal itu bagian dari gejala yang bisa ditangani.
Bila pikiran menyakiti diri muncul, jangan menunggu dua minggu atau jadwal kontrol berikutnya. Hubungi 119 ekstensi 8 (Healing119, gratis), atau segera ke IGD terdekat bila sudah ada rencana atau Anda merasa tidak aman. Bila Anda keluarga yang mendampingi, dengarkan tanpa berdebat, jauhkan benda yang berbahaya, dan temani dia sampai bantuan didapat.
Bila yang mengalami masih anak atau remaja di bawah 18 tahun, carilah psikiater anak dan remaja; Klinik Utama Luna tidak memiliki psikiater anak.
Konsultasi di Klinik Utama Luna
Bila Anda baru mendengar istilah depresi mayor dari dokter lain dan ingin penjelasan lebih lanjut, atau merasa gejala di atas cocok dengan keadaan Anda, Anda bisa berkonsultasi dengan dr. Syailendra W. Sadjarwo, Sp.KJ di Klinik Utama Luna, Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan. Bila pengobatan dimulai, kunjungan follow-up dipakai untuk memantau perkembangan dan obatnya.
Pertanyaan yang sering diajukan
Depresi mayor itu apa? Depresi mayor adalah diagnosis medis untuk depresi dengan suasana hati sedih atau hilang minat hampir setiap hari selama sekitar dua minggu atau lebih, disertai gejala lain seperti gangguan tidur, lelah, dan rasa tidak berharga, sampai mengganggu kegiatan sehari-hari.
Apa beda depresi mayor dan depresi berat? Depresi mayor adalah nama diagnosisnya, sedangkan "berat" adalah salah satu tingkatnya. Depresi mayor bisa ringan, sedang, atau berat, dan tingkatnya ikut menentukan pilihan penanganan.
Apa beda depresi mayor dan sedih biasa? Sedih biasa umumnya masih diselingi saat-saat lega dan tidak melumpuhkan kegiatan. Depresi mayor dinilai dari kumpulan gejala, lamanya, dan dampaknya, dan bisa muncul dengan atau tanpa pemicu yang jelas.
Apakah depresi mayor harus minum antidepresan? Tidak selalu. Pada depresi ringan, psikoterapi bisa menjadi pilihan utama, sedangkan pada depresi sedang sampai berat, gabungan psikoterapi dan antidepresan lazim dipertimbangkan. Keputusannya dibuat bersama psikiater setelah pemeriksaan.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun penanganan medis. Informasi obat (bila ada) menjelaskan kelompok obat secara umum tanpa anjuran jenis maupun takaran — konsultasikan dengan psikiater.
Butuh bantuan sekarang? Hubungi layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8 (gratis), atau chat lewat healing119.id. Dalam keadaan darurat, segera ke IGD terdekat.





