SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor) adalah salah satu golongan antidepresan. Obat ini dipakai untuk depresi, dan obat tertentu dalam golongan ini juga dipakai untuk gangguan kecemasan serta OCD (gangguan obsesif-kompulsif). SSRI termasuk obat keras yang wajib resep dokter, dan manfaatnya umumnya baru terasa setelah beberapa minggu. Jenis obat, takaran, dan lama pemakaiannya selalu ditentukan psikiater.

Cara kerja SSRI dengan bahasa sederhana

Sel-sel saraf di otak saling berkirim pesan lewat zat kimia, salah satunya serotonin. Setelah pesan terkirim, serotonin biasanya diserap kembali oleh sel saraf pengirimnya. SSRI menghambat penyerapan kembali ini, khusus untuk serotonin, sehingga serotonin bertahan lebih lama di celah antarsel saraf.

Perubahan di otak setelahnya lebih rumit dan berlangsung bertahap, sejalan dengan manfaat obat yang baru terasa setelah beberapa minggu. Penjelasan ini juga tidak berarti depresi semata-mata disebabkan kekurangan serotonin. Dokter tidak mengukur kadar serotonin Anda untuk menentukan diagnosis atau memilih obat.

Untuk kondisi apa SSRI diresepkan?

Selain depresi, obat golongan SSRI dipakai untuk beberapa gangguan kecemasan, misalnya gangguan cemas menyeluruh (GAD), gangguan panik, dan kecemasan sosial. SSRI juga dipakai untuk OCD dan PTSD (gangguan stres pascatrauma). Tidak semua obat SSRI punya kegunaan yang sama, jadi pilihannya bergantung pada kondisi yang ditangani. Untuk kecemasan yang menetap, baca juga pemeriksaan GAD.

Sebelum meresepkan, psikiater perlu tahu beberapa hal tentang Anda:

  • Riwayat suasana hati naik. Pernahkah Anda mengalami masa tidur sangat sedikit tetapi tetap penuh energi, bicara cepat, dan bertindak jauh berbeda dari biasanya? Pada gangguan bipolar, SSRI yang diberikan tanpa obat penstabil suasana hati (mood stabilizer) bisa memicu fase suasana hati naik, jadi riwayat ini penting sekali.
  • Kehamilan, menyusui, atau rencana hamil.
  • Obat lain, suplemen, dan jamu yang sedang dipakai.
  • Riwayat perdarahan, atau pemakaian obat pengencer darah.

Minggu-minggu awal: efek samping datang lebih dulu

Efek samping SSRI sering muncul sebelum manfaatnya terasa. Di awal, yang biasa dikeluhkan antara lain mual, sakit kepala, sulit tidur atau malah mengantuk, berkeringat, dan rasa gelisah yang sedikit meningkat. Sebagian keluhan ini berkurang seiring waktu.

Ada juga efek samping yang bisa bertahan lebih lama. Yang cukup sering dibicarakan pada SSRI adalah gangguan seksual, seperti gairah menurun atau sulit mencapai orgasme, serta perasaan yang terasa "datar". Sampaikan terus terang kepada dokter, karena ada beberapa penyesuaian yang bisa dibahas. Daftar yang lebih lengkap ada di artikel efek samping antidepresan.

Bila di minggu pertama belum terasa membaik, itu belum berarti obatnya gagal. Jangan menambah takaran sendiri; ceritakan saat kontrol.

Reaksi yang tidak boleh ditunggu sampai jadwal kontrol

Sebagian orang justru merasa lebih buruk setelah mulai minum SSRI atau setelah takarannya diubah dokter: gelisah berat, suasana hati makin turun, atau muncul pikiran menyakiti diri. Remaja dan dewasa muda perlu diawasi lebih dekat pada masa ini. Bila Anda atau keluarga melihat perubahan seperti ini, hubungi dokter hari itu juga. Bila pikiran menyakiti diri terasa kuat, hubungi 119 ekstensi 8 (Healing119, gratis) atau segera ke IGD terdekat.

Hubungi dokter segera juga bila muncul tanda suasana hati naik berlebihan, misalnya tidur sangat sedikit tanpa merasa lelah, bicara cepat, atau bertindak sangat impulsif.

Sindrom serotonin adalah reaksi serius yang lebih mungkin terjadi bila SSRI dipakai bersama obat lain yang juga menaikkan serotonin. Tandanya muncul berbarengan: badan panas dan berkeringat, jantung berdebar kencang, gemetar atau otot berkedut, disertai gelisah dan bingung. Bila gejala seperti ini muncul, segera ke IGD. Sesak napas, bengkak di wajah atau tenggorokan, dan kejang juga perlu ditangani di IGD.

SSRI bersama obat lain, jamu, dan alkohol

SSRI bisa berinteraksi dengan beberapa obat yang sering dipakai sehari-hari. Obat antinyeri golongan antiinflamasi (NSAID) dan obat pengencer darah bisa meningkatkan risiko perdarahan bila diminum bersama SSRI. Obat lain yang juga memengaruhi serotonin, seperti antidepresan lain, sebagian obat migrain, obat batuk tertentu, dan beberapa produk herbal, bisa menaikkan risiko sindrom serotonin.

Karena itu, tanyakan dulu kepada dokter atau apoteker sebelum membeli obat bebas, suplemen, atau jamu. Kebiasaan minum alkohol juga sebaiknya diceritakan, karena alkohol memperberat suasana hati dan mengganggu tidur.

Berapa lama SSRI diminum, dan bagaimana berhentinya?

Lama pengobatan berbeda untuk setiap orang dan ditentukan bersama psikiater, dengan menimbang manfaat, efek samping, dan risiko kambuh. Yang perlu diingat, banyak kekambuhan berawal dari obat yang dihentikan sendiri begitu merasa membaik.

SSRI tidak membuat kecanduan seperti narkotika. Meski begitu, obat yang dihentikan mendadak bisa memicu gejala penghentian, misalnya pusing, mual, atau sensasi seperti tersengat listrik, sehingga cara berhentinya perlu diatur dokter. Keluhan setelah obat dihentikan tidak selalu berarti depresi kambuh. Langkah-langkahnya dijelaskan di artikel berhenti minum antidepresan bersama dokter.

Konsultasi di Klinik Utama Luna

Bila Anda baru diresepkan SSRI dan masih punya banyak pertanyaan, Anda bisa berkonsultasi dengan dr. Syailendra W. Sadjarwo, Sp.KJ di Klinik Utama Luna, Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan, yang melayani konsultasi psikiatri, kontrol lanjutan, dan manajemen obat. Daftar pertanyaan yang bisa dibawa ada di panduan mulai antidepresan. Bila yang mengalami masih anak atau remaja di bawah 18 tahun, carilah psikiater anak dan remaja; Klinik Utama Luna tidak memiliki psikiater anak.

Buat janji temu

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah SSRI membuat kecanduan? Tidak dalam arti seperti narkotika, karena SSRI tidak menimbulkan rasa "nagih". Namun, berhenti mendadak bisa memicu gejala penghentian, sehingga penghentiannya perlu direncanakan bersama dokter.

Berapa lama SSRI mulai bekerja? Umumnya perlu beberapa minggu sebelum manfaatnya terasa, sementara efek samping bisa muncul lebih awal. Psikiater akan menilai respons Anda saat kontrol.

Apakah SSRI bisa untuk kecemasan? Bisa. Obat tertentu dalam golongan SSRI dipakai untuk beberapa gangguan kecemasan, seperti gangguan cemas menyeluruh, gangguan panik, dan kecemasan sosial, sesuai hasil pemeriksaan psikiater.

Apakah SSRI bisa dibeli tanpa resep? Tidak. SSRI termasuk obat keras yang wajib resep dokter di Indonesia dan tidak dijual bebas secara legal.


Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun penanganan medis. Informasi obat (bila ada) menjelaskan kelompok obat secara umum tanpa anjuran jenis maupun takaran — konsultasikan dengan psikiater.

Butuh bantuan sekarang? Hubungi layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8 (gratis), atau chat lewat healing119.id. Dalam keadaan darurat, segera ke IGD terdekat.