PTSD (post-traumatic stress disorder) atau gangguan stres pascatrauma adalah kondisi ketika pengalaman yang sangat menakutkan terus "hidup kembali" lewat kilas balik, mimpi buruk, dan rasa waspada yang tidak kunjung reda. EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing), atau terapi desensitisasi dan pemrosesan ulang dengan gerakan mata, adalah salah satu terapi yang dipakai untuk trauma. EMDR bisa dipertimbangkan untuk PTSD setelah pemeriksaan dan bila kondisi Anda cukup stabil. Bila trauma disertai pikiran menyakiti diri, hubungi 119 ekstensi 8 (Healing119, gratis) atau segera ke IGD terdekat.

Apa itu PTSD dan bedanya dengan reaksi stres biasa

Setelah mengalami kejadian berat seperti kecelakaan, kekerasan, bencana, atau kematian orang terdekat secara mendadak, wajar bila seseorang sulit tidur, gelisah, atau terus teringat kejadiannya pada minggu-minggu awal. Kondisi ini baru disebut PTSD bila gejalanya menetap lebih dari sekitar satu bulan dan mengganggu kegiatan sehari-hari.

Gejala PTSD terbagi dalam empat kelompok:

  • Mengalami ulang. Ingatan datang tiba-tiba, kilas balik yang terasa seperti kejadian sedang berulang, atau mimpi buruk.
  • Menghindar. Menjauhi tempat, orang, atau pembicaraan yang mengingatkan pada kejadian.
  • Perubahan pikiran dan suasana hati. Merasa bersalah atau malu, sulit percaya pada orang lain, atau merasa hampa.
  • Terlalu waspada. Mudah terkejut, sulit tidur, sulit berkonsentrasi, atau merasa harus selalu siaga.

Gejala ini bisa bercampur dengan depresi, kecemasan, atau penggunaan alkohol dan obat untuk meredakan perasaan. Karena itu, penilaiannya perlu dilakukan langsung oleh psikiater.

Apa itu EMDR dan bagaimana cara kerjanya

EMDR memakai stimulasi bilateral, yaitu rangsangan yang bergantian di sisi kiri dan kanan tubuh. Bentuknya bisa berupa mata yang mengikuti gerakan jari terapis ke kiri dan ke kanan, ketukan bergantian di kedua tangan, atau bunyi bergantian di telinga kiri dan kanan. Sambil melakukannya, Anda diminta memusatkan perhatian pada sebagian ingatan traumatis selama beberapa saat, lalu menyampaikan singkat apa yang muncul di pikiran atau tubuh.

Tujuannya membantu otak memproses ulang kenangan traumatis. Harapannya, ingatan itu masih bisa diingat, tetapi tidak lagi terasa seolah sedang terjadi sekarang. EMDR tidak selalu menuntut Anda menceritakan detail kejadian panjang lebar.

EMDR mengikuti protokol yang bertahap: menggali riwayat dan menyusun rencana, persiapan, pemrosesan ingatan, menutup setiap sesi dengan aman, lalu menilai ulang di pertemuan berikutnya. Gambaran isi sesinya bisa Anda baca di terapi EMDR untuk trauma.

Kapan EMDR dipertimbangkan untuk PTSD

EMDR bisa dipertimbangkan setelah psikiater atau terapis menilai gejala PTSD, seberapa besar dampaknya pada kegiatan Anda, pilihan Anda sendiri, dan kebutuhan keselamatan. Keluhan lain, seperti sulit tidur atau penggunaan zat, perlu ditangani juga.

Kapan seseorang siap menjalani pemrosesan ingatan dinilai per orang. Ada yang bisa mulai cukup cepat, ada yang perlu waktu persiapan lebih panjang. Bila saat ini Anda sering berpikir untuk mengakhiri hidup, sedang dalam masa krisis, atau masih tinggal dalam situasi yang tidak aman, keselamatan biasanya diurus lebih dulu.

Stabilisasi: menyiapkan diri sebelum memproses trauma

Stabilisasi berarti membangun kemampuan dasar sebelum masuk ke ingatan yang berat. Isinya bisa berupa memperbaiki pola tidur, belajar teknik grounding (cara membawa perhatian kembali ke saat ini, misalnya merasakan telapak kaki menapak lantai atau menyebutkan benda di sekitar), memperkuat dukungan dari orang terdekat, mengurangi penggunaan zat, dan menyusun rencana keselamatan bila pikiran menyakiti diri muncul.

Anda juga belajar cara meminta jeda saat sesi terasa terlalu berat. Stabilisasi tidak berarti menunda pemulihan; justru tahap ini membuat terapi lebih aman.

Pilihan lain selain EMDR

EMDR bukan satu-satunya jalan. CBT (terapi kognitif-perilaku) yang berfokus pada trauma juga menjadi pilihan untuk PTSD. CBT lebih banyak bekerja lewat pikiran, perasaan, dan latihan keterampilan, sedangkan EMDR berfokus pada pemrosesan ingatan dengan stimulasi bilateral. Perbandingan lengkapnya ada di EMDR dan CBT.

Psikoterapi suportif, penjelasan tentang kondisi Anda, dan obat yang diputuskan psikiater bisa melengkapi rencana. Pilihan akhirnya bergantung pada gejala, riwayat, kesiapan, dan apa yang Anda inginkan dari terapi.

Setelah sesi dan selama terapi berjalan

Sebagian orang merasa lelah atau lebih emosional setelah sesi pemrosesan trauma, dan mimpi buruk atau ingatan bisa sementara terasa lebih mengganggu. Karena itu, hindari menjadwalkan kegiatan berat setelah sesi awal, setidaknya sampai Anda tahu bagaimana tubuh bereaksi. Sebelum pulang, pastikan Anda tahu apa yang harus dilakukan dan siapa yang dihubungi bila keluhan meningkat.

Kemajuan biasanya terlihat dari ingatan yang tidak lagi mengambil alih seluruh hari, tidur yang membaik, dan kemampuan kembali ke kegiatan yang dulu dihindari. Bila gejala justru jauh lebih berat, segera beri tahu dokter atau terapis agar rencananya disesuaikan.

Mendampingi orang dengan PTSD di rumah

Keluarga tidak perlu mendesak orang yang mengalami trauma untuk menceritakan kejadiannya. Yang lebih membantu adalah menjaga rasa aman, menghormati batasnya, dan mendukung jadwal terapinya. Bila keluarga ikut ke sesi, tujuannya memahami cara mendukung, bukan menggali cerita.

Bila ia berbicara tentang ingin mati, melukai diri, atau minum alkohol dan obat secara berlebihan untuk menahan ingatan, jangan menunggu jadwal terapi. Temani dia dan hubungi 119 ekstensi 8 (Healing119, gratis) atau bawa ke IGD terdekat.

Bila yang mengalami masih anak atau remaja di bawah 18 tahun, carilah psikiater anak dan remaja; Klinik Utama Luna tidak memiliki psikiater anak.

Konsultasi di Klinik Utama Luna

Salah satu pendekatan yang digunakan dr. Syailendra W. Sadjarwo, Sp.KJ adalah EMDR. Dalam konsultasi, Anda bisa membahas gejala trauma yang dialami dan apakah EMDR cocok untuk Anda saat ini. Pada pertemuan pertama, Anda tidak perlu menceritakan detail kejadian; cukup sampaikan gejala yang paling mengganggu, pola tidur, dan kekhawatiran Anda tentang terapi.

Buat janji temu

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah EMDR cocok untuk semua orang dengan PTSD? Tidak selalu. EMDR bisa dipertimbangkan untuk PTSD, tetapi kecocokannya bergantung pada hasil pemeriksaan, kestabilan saat ini, risiko keselamatan, dan kesiapan Anda.

Apakah saat EMDR harus menceritakan trauma secara detail? Tidak harus. EMDR tidak selalu menuntut cerita panjang lebar tentang kejadian, dan tahap persiapan dilakukan lebih dulu sebelum ingatan diproses.

Apa beda EMDR dan CBT untuk PTSD? CBT berfokus pada hubungan pikiran, perasaan, dan perilaku, serta latihan keterampilan di antara sesi. EMDR berfokus pada pemrosesan ulang ingatan traumatis dengan stimulasi bilateral mengikuti protokol khusus.

Apakah gejala bisa memburuk setelah sesi EMDR? Bisa, untuk sementara. Sebagian orang merasa lebih lelah, emosional, atau mengalami mimpi buruk setelah sesi. Sampaikan kepada terapis atau dokter, dan bila muncul pikiran menyakiti diri, hubungi 119 ekstensi 8 atau segera ke IGD.


Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun penanganan medis. Informasi obat (bila ada) menjelaskan kelompok obat secara umum tanpa anjuran jenis maupun takaran — konsultasikan dengan psikiater.

Butuh bantuan sekarang? Hubungi layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8 (gratis), atau chat lewat healing119.id. Dalam keadaan darurat, segera ke IGD terdekat.