Ringkasan: Putus alkohol (alcohol withdrawal) adalah kumpulan gejala yang muncul ketika orang yang sudah lama minum banyak tiba-tiba mengurangi atau berhenti minum. Gejalanya bisa ringan, seperti gemetar dan gelisah, tetapi bisa juga berat sampai kejang dan kebingungan hebat. Karena itu, berhenti minum setelah pemakaian berat dan lama perlu diawasi dokter.

Kenapa tubuh bereaksi saat alkohol dihentikan

Alkohol memperlambat kerja otak. Bila diminum terus-menerus, otak menyesuaikan diri dengan bekerja lebih keras agar tetap berfungsi normal. Saat alkohol tiba-tiba hilang, otak masih bekerja dalam mode "lebih keras" itu, sehingga sistem saraf menjadi terlalu aktif.

Dari sinilah muncul gemetar, keringat, jantung berdebar, bahkan kejang pada keadaan berat. Ini penting dipahami, karena putus alkohol bukan soal kurang niat. Gejalanya tidak bisa diatasi hanya dengan menahan diri.

Gejala putus alkohol, dari ringan sampai berat

Gejala yang lebih ringan antara lain:

  • gemetar, terutama di tangan;
  • berkeringat, mual, dan sakit kepala;
  • cemas, gelisah, dan mudah marah;
  • sulit tidur;
  • jantung berdebar.

Gejala berat meliputi halusinasi (melihat, mendengar, atau merasakan hal yang tidak ada), kejang, dan kebingungan hebat. Bentuk yang sangat berat disebut delirium tremens. Orang yang mengalaminya sangat bingung, tidak tahu sedang di mana atau hari apa, sangat gelisah, berhalusinasi, dan sering disertai demam, keringat banyak, serta jantung yang berdetak sangat cepat. Delirium tremens adalah keadaan gawat darurat.

Gejala berat tidak selalu muncul di awal. Seseorang bisa tampak hanya gemetar dan gelisah, lalu memburuk kemudian. Karena itu, keluhan yang terlihat ringan pun perlu dipantau.

Siapa yang lebih berisiko mengalami putus alkohol berat

Risikonya lebih tinggi pada orang yang:

  • sudah lama minum dalam jumlah banyak secara rutin;
  • perlu minum di pagi hari untuk menghentikan gemetar;
  • pernah kejang, berhalusinasi, atau sangat bingung saat berhenti minum sebelumnya;
  • juga memakai obat penenang atau zat lain;
  • punya penyakit fisik, misalnya gangguan hati, atau sedang sakit berat.

Bila salah satunya cocok dengan keadaan Anda, jangan berhenti mendadak sendirian. Periksakan diri dulu supaya dokter bisa menilai apakah cukup rawat jalan atau perlu dirawat di rumah sakit. Bila Anda juga memakai zat lain, gambaran gejala putusnya ada di artikel gejala sakau.

Kapan putus alkohol menjadi darurat

Segera ke IGD terdekat atau telepon 119 bila muncul:

  • kejang;
  • bingung berat, tidak tahu sedang di mana, atau berhalusinasi;
  • sangat gelisah atau gemetar hebat yang tidak mereda;
  • demam tinggi;
  • jantung berdetak sangat cepat atau nyeri dada;
  • muntah terus-menerus sampai tidak bisa minum air;
  • sulit dibangunkan atau tidak sadar.

Jangan menunggu sampai pagi atau sampai jadwal kontrol. Bila putus alkohol disertai rasa putus asa atau pikiran menyakiti diri, hubungi 119 ekstensi 8 (Healing119, gratis) atau segera ke IGD terdekat.

Mendampingi anggota keluarga yang sedang putus alkohol

Sebutan yang merendahkan biasanya membuat orang menutupi kebiasaan minumnya. Kalimat seperti "Saya khawatir dengan keadaanmu, ayo kita periksa ke dokter" lebih mungkin diterima daripada omelan.

Bila ia tampak bingung atau sangat gelisah, jangan tinggalkan sendirian. Jangan memberinya obat tidur atau obat penenang milik orang lain untuk meredakan gejala. Catat kapan terakhir ia minum, kira-kira seberapa banyak, dan apakah pernah kejang. Informasi ini sangat membantu dokter di IGD.

Setelah masa putus alkohol lewat

Gejala putus yang sudah reda belum berarti pemulihan selesai. Kontrol lanjutan membantu menjaga agar tidak kembali minum, sekaligus menangani hal yang sering menyertai, seperti cemas, depresi, dan susah tidur. Banyak orang kaget karena tidurnya justru terasa kacau selama beberapa waktu setelah berhenti; keluhan ini perlu dibicarakan dengan dokter, bukan diatasi dengan minum lagi atau obat tidur sendiri. Kaitan alkohol dengan suasana hati dibahas di artikel alkohol dan depresi.

Ada satu bahaya lagi. Setelah berhenti beberapa waktu, toleransi tubuh terhadap alkohol menurun. Kembali minum sebanyak dulu bisa menyebabkan keracunan alkohol, apalagi bila dicampur obat penenang. Bila sempat kambuh, jangan menghilang dari kontrol; justru saat itulah rencana pemulihan perlu diperkuat. Bila Anda belum yakin apakah kebiasaan minum Anda sudah bermasalah, baca tanda minum alkohol mulai menjadi gangguan.

Konsultasi di Klinik Utama Luna

Sebelum mencoba berhenti, Anda bisa memeriksakan diri ke dr. Rudyhard E. Hutagalung, Sp.KJ untuk menilai seberapa besar risiko putus alkohol Anda dan menyusun rencana pemulihan; adiksi dan zat psikoaktif termasuk fokus beliau. Bila tanda darurat di atas sudah terlihat, jangan menunggu jadwal praktik dan pergilah ke IGD.

Buat janji temu

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah putus alkohol bisa menyebabkan kematian? Bisa, bila gejalanya berat. Kejang dan delirium tremens adalah keadaan gawat darurat yang harus ditangani di IGD. Itulah alasan orang yang sudah lama minum banyak sebaiknya tidak berhenti mendadak tanpa pengawasan dokter.

Berapa lama gejala putus alkohol berlangsung? Lamanya berbeda pada tiap orang, tergantung seberapa lama dan banyak seseorang minum serta kondisi tubuhnya. Gejala berat kadang baru muncul setelah gejala ringan, jadi jangan merasa aman hanya karena awalnya terasa ringan. Gangguan tidur dan rasa cemas bisa bertahan lebih lama daripada gemetar.

Bolehkah mengurangi alkohol sedikit demi sedikit sendiri? Bila Anda sudah lama minum banyak, jangan menyusun jadwal pengurangan sendiri. Dokter yang menilai cara berhenti yang aman dan apakah Anda perlu dipantau. Rencana yang disusun bersama dokter jauh lebih aman daripada coba-coba.

Apakah gemetar di pagi hari tanda putus alkohol? Bisa. Gemetar di pagi hari yang hilang setelah minum adalah salah satu tanda tubuh sudah bergantung pada alkohol. Ini alasan kuat untuk memeriksakan diri sebelum mencoba berhenti.


Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun penanganan medis. Informasi obat (bila ada) menjelaskan kelompok obat secara umum tanpa anjuran jenis maupun takaran — konsultasikan dengan psikiater.

Butuh bantuan sekarang? Hubungi layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8 (gratis), atau chat lewat healing119.id. Dalam keadaan darurat, segera ke IGD terdekat.