Bipolar adalah gangguan suasana hati: naik-turun mood yang ekstrem, dari mania sampai depresi. Skizofrenia adalah gangguan psikotik: inti masalahnya ada pada cara seseorang memahami kenyataan, misalnya mendengar suara yang tidak ada atau yakin pada hal yang tidak benar. Keduanya bisa terlihat mirip karena bipolar yang berat juga bisa disertai halusinasi dan waham. Perbedaannya paling jelas terlihat dari perjalanan gejala dari waktu ke waktu; satu malam krisis saja biasanya belum cukup untuk membedakannya.

Mengapa keduanya sering tertukar

Dari luar, keluarga mungkin hanya melihat perubahan yang menakutkan: curiga berlebihan, bicara tidak nyambung, tertawa atau marah tanpa sebab yang jelas, atau tidak tidur berhari-hari. Gambaran seperti ini bisa muncul pada episode mania dengan gejala psikotik, pada depresi berat dengan gejala psikotik, maupun pada skizofrenia.

Saat pertama kali datang dalam kondisi krisis, dokter sering belum bisa memastikan mana yang terjadi. Gejala yang sama bisa punya penyebab yang berbeda. Karena itu, label yang dipakai di awal kadang masih bersifat sementara.

Perbedaan utama: mood atau psikosis yang menjadi pusatnya

Cara paling sederhana memahami perbedaannya adalah dengan bertanya: apa yang menjadi benang merahnya?

Pada bipolar, benang merahnya adalah episode mood. Ada masa mood sangat naik (mania atau hipomania) dan masa mood sangat turun (depresi). Bila halusinasi atau waham muncul, biasanya hanya selama episode mood berat dan mereda ketika mood kembali stabil. Di antara episode, banyak orang bisa kembali menjalani pekerjaan dan hubungan seperti biasa.

Pada skizofrenia, benang merahnya adalah gejala psikotik itu sendiri. Halusinasi, waham, atau pikiran yang kacau bisa bertahan lama, tanpa harus didahului mood yang naik atau turun. Mood bisa ikut terganggu, tetapi bukan itu pusatnya.

Satu salah paham yang sering muncul: skizofrenia dianggap sama dengan "kepribadian ganda". Keduanya kondisi yang berbeda.

Gejala negatif dan kehidupan sehari-hari di antara episode

Hal lain yang diperhatikan dokter adalah apa yang terjadi saat tidak sedang krisis. Pada skizofrenia, sering ada yang disebut gejala negatif: semangat menurun, ekspresi wajah datar, bicara sedikit, sulit memulai kegiatan, dan menarik diri dari pergaulan. Gejala ini bisa disangka malas atau depresi, padahal bagian dari kondisinya. Penjelasan lebih lengkap ada di artikel gejala negatif skizofrenia.

Pada bipolar, lesu dan menarik diri juga bisa terjadi, tetapi biasanya terikat pada episode depresi dan membaik ketika episode itu berlalu.

Saat gambarannya ada di tengah-tengah

Ada orang yang mengalami gejala psikotik menetap seperti pada skizofrenia, tetapi juga mengalami episode mood yang jelas seperti pada bipolar. Gambaran ini disebut gangguan skizoafektif. Membedakannya perlu pengamatan yang cukup lama, dan dokter memutuskannya berdasarkan riwayat lengkap.

Penggunaan zat seperti sabu atau ganja, juga kondisi medis tertentu, bisa memunculkan gejala yang mirip keduanya. Karena itu, dokter akan menanyakan riwayat ini secara terbuka.

Mood dulu atau psikosis dulu? Mengurutkan kejadiannya

Dokter membedakan bipolar dan skizofrenia terutama dari kronologi. Keluarga bisa membantu dengan mengingat:

  • mana yang muncul lebih dulu, perubahan mood atau halusinasi dan wahamnya;
  • apakah halusinasi atau waham tetap ada saat mood sudah tenang;
  • apakah pernah ada masa tidur sangat sedikit tetapi tetap penuh energi, bicara cepat, atau boros belanja;
  • bagaimana keseharian di antara masa krisis: bisa bekerja, sekolah, bergaul, atau tidak;
  • penggunaan alkohol, narkoba, dan obat-obatan;
  • diagnosis, rawat inap, atau obat sebelumnya, beserta hasilnya.

Diagnosis bisa berubah ketika polanya makin jelas. Perubahan seperti ini wajar, karena sebagian pola baru terlihat utuh setelah diamati beberapa waktu.

Apakah obatnya sama?

Sebagian tumpang tindih. Obat golongan antipsikotik bisa dipakai pada keduanya, terutama saat ada halusinasi atau waham. Pada bipolar, obat golongan mood stabilizer (penstabil suasana hati) menjadi bagian penting untuk mencegah naik-turunnya mood. Pada bipolar, antidepresan tanpa obat penstabil bisa memicu pergeseran ke mania. Ini salah satu alasan mengapa membedakan keduanya dengan tepat itu penting.

Jangan mengganti atau menghentikan obat sendiri karena diagnosisnya berubah atau karena merasa sudah baik. Bicarakan setiap perubahan dengan psikiater.

Saat gejala sedang membahayakan

Pada bipolar maupun skizofrenia, keselamatan lebih penting daripada memastikan diagnosis. Bila muncul pikiran ingin mati atau suara yang menyuruh menyakiti diri, hubungi 119 ekstensi 8 (Healing119, gratis) atau segera ke IGD terdekat. Bila ia mengancam atau menyerang orang lain, sudah bertindak mengikuti suara, atau tidak tidur dan tidak makan sama sekali, bawa ke IGD terdekat atau hubungi 119 untuk bantuan gawat darurat. Kebingungan berat yang muncul mendadak juga perlu diperiksa di IGD karena bisa disebabkan masalah fisik.

Untuk memahami gambaran waham dan halusinasi yang terjadi di tengah episode bipolar, baca bipolar dengan gejala psikotik. Untuk keluarga yang mendampingi orang dengan skizofrenia, ada panduan gejala skizofrenia untuk keluarga.

Konsultasi di Klinik Utama Luna

Ragu apakah diagnosis bipolar atau skizofrenia yang pernah diterima keluarga Anda masih tepat, atau gejalanya kini berubah? Riwayat itu bisa ditelaah bersama dr. Syailendra W. Sadjarwo, Sp.KJ; gangguan bipolar, skizofrenia, dan gangguan psikotik termasuk fokus beliau. Bawa urutan kejadian dan daftar obat yang pernah dipakai. Bila yang mengalami masih anak atau remaja di bawah 18 tahun, carilah psikiater anak dan remaja; Klinik Utama Luna tidak memiliki psikiater anak.

Buat janji temu

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa perbedaan bipolar dan skizofrenia? Bipolar berpusat pada episode mood yang naik dan turun, sedangkan skizofrenia berpusat pada gejala psikotik seperti halusinasi dan waham. Pada bipolar, gejala psikotik biasanya hanya muncul selama episode mood berat.

Apakah bipolar bisa berubah menjadi skizofrenia? Bipolar tidak "berubah" menjadi skizofrenia. Yang bisa terjadi, diagnosis diperbarui ketika pola gejala dari waktu ke waktu makin jelas, misalnya ternyata gejala psikotik tetap ada di luar episode mood.

Apakah seseorang bisa punya bipolar dan skizofrenia sekaligus? Bila gejala keduanya muncul bersama secara menetap, dokter biasanya mempertimbangkan gangguan skizoafektif, bukan dua diagnosis terpisah. Penilaiannya perlu riwayat yang lengkap.

Mana yang lebih berat, bipolar atau skizofrenia? Keduanya tidak bisa dibandingkan begitu saja. Beratnya kondisi berbeda pada tiap orang, dan keduanya bisa ditangani dengan pengobatan teratur serta dukungan keluarga.


Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun penanganan medis. Informasi obat (bila ada) menjelaskan kelompok obat secara umum tanpa anjuran jenis maupun takaran — konsultasikan dengan psikiater.

Butuh bantuan sekarang? Hubungi layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8 (gratis), atau chat lewat healing119.id. Dalam keadaan darurat, segera ke IGD terdekat.