Katatonia adalah kumpulan gejala yang membuat gerak, bicara, dan respons seseorang berubah drastis. Ia bisa diam membeku, tidak menjawab saat diajak bicara, tubuhnya kaku, atau bertahan lama dalam posisi yang aneh. Pada sebagian orang justru sebaliknya: sangat gelisah tanpa tujuan yang jelas. Katatonia bisa menjadi keadaan darurat. Segera bawa ke IGD bila orang itu menolak makan dan minum, tidak merespons sama sekali, atau tubuhnya kaku disertai demam.
Seperti apa katatonia terlihat
Keluarga biasanya pertama kali melihat bahwa orang itu "tidak seperti biasanya" dan makin lama makin tidak bisa diajak berinteraksi. Gejala katatonia bisa berupa:
- Diam membeku. Ia duduk atau berbaring nyaris tidak bergerak dalam waktu lama, padahal matanya terbuka dan ia tampak terjaga.
- Tidak mau atau tidak bisa bicara. Ia tidak menjawab pertanyaan, bahkan dari orang terdekat.
- Bertahan dalam posisi yang tidak wajar. Misalnya tangan terangkat atau tubuh condong ke satu sisi dalam waktu lama. Kadang, bila lengannya diangkat orang lain, lengan itu tetap di posisi tersebut.
- Tubuh kaku dan sulit digerakkan.
- Menolak tanpa alasan yang jelas, misalnya menutup mulut saat disuapi atau melawan saat dibantu berpindah.
- Meniru ucapan atau gerakan orang di depannya, atau mengulang gerakan yang sama terus-menerus.
- Gelisah berat, mondar-mandir, atau bergerak berlebihan tanpa tujuan, sampai sulit dijaga keselamatannya.
Tidak semua gejala muncul bersamaan. Satu orang bisa menunjukkan beberapa saja, dan gejalanya bisa berganti dari diam ke gelisah.
Ia tidak sedang keras kepala atau pura-pura
Karena orang dengan katatonia tidak menjawab atau menolak bantuan, keluarga kadang mengira ia sedang marah, mogok, atau sengaja mencari perhatian. Padahal katatonia adalah kondisi medis. Orang yang mengalaminya sering tidak mampu mengendalikan gerak dan responsnya, walaupun dari luar tampak seperti tidak mau.
Membentak, mengguncang badannya, atau menyuruhnya "berhenti pura-pura" tidak akan membantu dan bisa membuatnya makin tertekan. Yang ia butuhkan adalah pemeriksaan dokter secepatnya.
Kondisi yang bisa menyebabkan katatonia
Katatonia bukan diagnosis yang berdiri sendiri. Ia bisa muncul bersama berbagai kondisi, antara lain:
- Gangguan suasana hati, seperti depresi berat atau gangguan bipolar. Bila depresinya disertai halusinasi atau waham, baca Depresi dengan Gejala Psikotik.
- Gangguan psikotik, termasuk skizofrenia. Gambaran umumnya ada di Apa Itu Psikosis?.
- Kondisi medis, misalnya infeksi, gangguan pada otak, atau gangguan metabolisme tubuh.
- Efek obat atau zat, termasuk berhenti mendadak dari obat tertentu.
Karena penyebabnya bisa fisik maupun kejiwaan, pemeriksaannya biasanya melibatkan beberapa dokter di rumah sakit, tidak hanya psikiater.
Tanda katatonia yang harus segera dibawa ke IGD
Jangan menunggu jadwal konsultasi biasa bila Anda melihat salah satu keadaan berikut:
- Ia menolak atau tidak bisa makan dan minum. Tubuhnya bisa cepat kekurangan cairan.
- Ia sama sekali tidak merespons, atau kesadarannya tampak menurun.
- Tubuhnya sangat kaku dan disertai demam, keringat berlebihan, atau jantung berdebar cepat. Gabungan gejala ini bisa menandakan bentuk katatonia yang berat atau reaksi serius terhadap obat, terutama bila ia sedang minum obat antipsikotik. Keduanya perlu ditangani di rumah sakit.
- Ia sangat gelisah sampai membahayakan dirinya atau orang lain.
Dalam keadaan seperti ini, bawa langsung ke IGD terdekat. Bila ia tidak bisa dibawa dengan kendaraan biasa, hubungi 119 untuk meminta ambulans. Bila sebelumnya ia pernah bicara ingin mati atau menyakiti diri, sampaikan juga kepada petugas IGD. Untuk arahan krisis kejiwaan, Anda bisa menghubungi 119 ekstensi 8 (Healing119, gratis); layanan ini berbeda dari nomor ambulans.
Yang dilakukan keluarga sambil menuju rumah sakit
Jangan memaksa memberi makan atau minum kepada orang yang tidak merespons, karena ia bisa tersedak. Jangan pula memberinya obat apa pun atas inisiatif sendiri, termasuk obat penenang yang ada di rumah.
Bicaralah dengan tenang dan pelan, walaupun ia tidak menjawab. Siapkan informasi yang akan ditanyakan dokter: kapan perubahan mulai terlihat, kapan terakhir ia makan dan minum, obat yang sedang atau baru berhenti diminum, pemakaian zat, dan riwayat gangguan jiwa sebelumnya. Bawa juga bungkus atau daftar obatnya.
Penanganan katatonia
Katatonia ditangani di rumah sakit. Dokter memeriksa kondisi fisiknya, mencari penyebab medis, dan memastikan kebutuhan cairan serta makanannya terpenuhi.
Pilihan pengobatannya ditentukan dokter sesuai hasil pemeriksaan. Pilihan itu bisa berupa obat dari golongan tertentu dan, pada kasus tertentu, terapi elektrokonvulsif (ECT), yaitu terapi dengan rangsangan listrik terukur pada otak yang dilakukan di rumah sakit. Setelah katatonia mereda, kondisi yang mendasarinya, misalnya depresi berat, bipolar, atau psikosis, juga perlu diobati.
Setelah katatonia mereda
Masa sesudah pulang dari rumah sakit sama pentingnya. Pastikan keluarga tahu penyebab apa yang ditemukan, obat apa yang perlu dilanjutkan, dan kapan jadwal kontrolnya. Tanyakan juga tanda awal apa yang perlu diwaspadai, misalnya mulai sedikit bicara, makan berkurang, atau gerakan melambat, supaya bila gejala kembali, bantuan bisa dicari lebih cepat. Walaupun ia sudah tampak pulih, jangan menghentikan atau mengubah obatnya tanpa membicarakannya dulu dengan psikiater.
Konsultasi di Klinik Utama Luna
Katatonia yang sedang berlangsung perlu ditangani di rumah sakit lebih dulu, bukan lewat janji temu di klinik. Setelah masa darurat lewat dan ia sudah pulang, kontrol lanjutan dan pengaturan obat bisa dilakukan bersama dr. Syailendra W. Sadjarwo, Sp.KJ, terutama bila katatonianya muncul bersama gejala psikotik. Bila yang mengalami masih anak atau remaja di bawah 18 tahun, carilah psikiater anak dan remaja; Klinik Utama Luna tidak memiliki psikiater anak.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu katatonia? Katatonia adalah kumpulan gejala yang memengaruhi gerak, bicara, dan respons seseorang. Orang yang mengalaminya bisa diam membeku, tidak menjawab, tubuhnya kaku, atau justru sangat gelisah tanpa tujuan.
Apakah katatonia termasuk keadaan darurat? Bisa. Katatonia perlu ditangani di IGD bila orang itu tidak makan dan minum, tidak merespons sama sekali, atau tubuhnya kaku disertai demam, berkeringat, dan jantung berdebar cepat.
Apakah katatonia sama dengan skizofrenia? Tidak. Katatonia bisa muncul pada skizofrenia, tetapi juga pada depresi berat, gangguan bipolar, kondisi medis, atau efek obat dan zat. Dokter perlu mencari penyebabnya.
Apakah katatonia bisa pulih? Bisa. Katatonia bisa mereda bila cepat ditangani di rumah sakit dan penyebabnya ikut diobati. Setelah pulang, kontrol rutin membantu keluarga mengenali bila gejalanya mulai muncul lagi.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun penanganan medis. Informasi obat (bila ada) menjelaskan kelompok obat secara umum tanpa anjuran jenis maupun takaran — konsultasikan dengan psikiater.
Butuh bantuan sekarang? Hubungi layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8 (gratis), atau chat lewat healing119.id. Dalam keadaan darurat, segera ke IGD terdekat.





